“Suatu tanggung jawab yang lebih besar, bisa lebih jadi berkat, bukan hanya untuk orang Kristen, tetapi juga bangsa Indonesia, masyarakat Kota Jakarta, dan beyond. Harapannya saya bisa lebih memacu diri untuk mengajar lebih baik, lebih berdedikasi, lebih peka dengan pergumulan masyarakat lalu bagaimana menjawabnya dari refleksi teologis,” katanya, Sabtu (31/1/2026).
Hal senada disampaikan oleh Prof Stevri yang memaknai pengukuhan guru besar sebagai amanah baru yang lebih berat. Dia menitikberatkan tanggung jawabnya kepada bangsa dan kemanusiaan ke depannya. Sebab, menurutnya, guru besar tak sekadar pencapaian belaka, tetapi merupakan titik awal.
“Menyandang guru besar itu suatu beban, karena masalah pertanggungjawaban apakah kita guru besar hanyalah seorang guru atau hanya membesar-besarkan diri? Beban ini harus dipertanggung jawabkan. Namun di sisi lain, ini merupakan kepercayaan, dari Tuhan, pemerintah, lembaga tempat saya mengajar, serta mahasiswa dan stakeholder di bidang pendidikan. Setelah ini kita mau berbuat apa untuk bangsa dan kemanusiaan,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd. yang turut hadir menyampaikan harapannya agar masyarakat dan lingkungan sekitar dapat terus proaktif mendorong lebih banyak lagi lahirnya guru besar.
Menurutnya, hal ini menjadi tantangan bagaimana disiplin ilmu yang sudah ditekuni dapat lebih dikembangkan dan bermanfaat untuk masyarakat, gereja, dan negara.