Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Komunikasi Pasien-Dokter dalam Pelayanan Kesehatan dalam Tinjauan Teori Narasi

Opini , Jurnalis-Selasa, 08 Oktober 2024 |23:51 WIB
Komunikasi Pasien-Dokter dalam Pelayanan Kesehatan dalam Tinjauan Teori Narasi
Komunikasi Pasien dan Dokter. (Ilustrasi : Freepik)
A
A
A

APAKAH Anda pernah mencurahkan kegelisahan kepada dokter? Di dunia medis, komunikasi antara pasien dan dokter memegang peran penting dalam menentukan kualitas perawatan kesehatan. Salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan untuk meningkatkan hubungan ini adalah narasi, atau cerita yang disampaikan pasien tentang pengalaman mereka dengan penyakit. Pendekatan naratif dianggap mampu membangun empati dan pemahaman yang lebih baik dalam hubungan dokter-pasien, sehingga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Sejak terbitnya The Illness Narratives karya Arthur Kleinman pada tahun 1988, banyak yang menganggap lahirnya pengobatan naratif, gagasan bahwa cerita pasien adalah sumber pengobatan yang lebih efektif dan tepat telah mendapatkan popularitas dan minat di kalangan peneliti. Narasi salah satu jembatan empati antara pasien dengan dokter, pasien yang menceritakan kisah mengenai penyakitnya awpweri gejala fisik, perasaan, harapan ketakutan dan lainnya melalui sebuah narasi. Pasien dan dokter dapat saling menggambarkan kesehatannya dan memungkinkan untuk dokter memahami lebih dari sekedar medis.

Penggunaan narasi dalam komunikasi antara dokter dan pasien memberikan pendekatan layanan kesehatan yang lebih manusiawi. Dengan mendengarkan pasien, dokter dapat lebih memahami kebutuhan masing-masing pasien dan memberikan pengobatan yang lebih tepat sasaran. Melalui teori naratif, empati dan pemahaman yang lebih mendalam dikembangkan, sehingga tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan dokter-pasien namun juga hasil medis secara keseluruhan.

Manfaat utama dari penggunaan narasi dalam komunikasi kesehatan salah satunya adalah membantu dokter maupun pihak rumah sakit untuk lebih memahami pasien secara konteks sosial dan psikologis. Narasi yang diberikan oleh pasien dapat membantu dokter untuk lebih mudah dalam mempertimbangkan sebuah diagnosis yang akan diberikan kepada pasien, serta dalam mengambil keputusan tentang pengobatan yang akan dilakukan dapat lebih sesuai dengan kebutuhan dan harapan pasien.

Berkembangnya zaman sangat membantu untuk timbulnya naratif dalam kesehatan. Terpusatnya perhatian manusia pada media baru seperti Media Sosial, Saluran Publik, Podcast, dan lainnya. Kampanye kesehatan pada publik seringkali dilakukan dan sudah berjalan dengan sebaiknya dengan dibungkus pada tayangan yang entertaining sehingga mendapatkan perhatian dari publik lebih meluas dari sebelumnya.

Sebagai contoh, dalam kasus penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi, keputusan mengenai pengobatan sering kali memerlukan partisipasi aktif dari pasien. Jika dokter dapat memahami narasi pasien tentang bagaimana kondisi mereka mempengaruhi kehidupan sehari-hari, mereka dapat menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan dan situasi spesifik pasien, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Perspektif teori komunikasi naratif dalam konteks kesehatan menekankan pentingnya cerita atau narasi sebagai alat komunikasi yang efektif untuk mempengaruhi pemahaman, sikap, dan perilaku individu terkait kesehatan. Teori ini menyoroti bahwa manusia secara alami terhubung dengan cerita, yang membantu mereka memahami pengalaman mereka sendiri dan orang lain, termasuk dalam hal kesehatan. Berikut adalah beberapa aspek penting dari perspektif ini:

1. Narasi sebagai Alat Komunikasi

Dalam teori komunikasi naratif, narasi dianggap sebagai cara yang kuat untuk menyampaikan pesan, terutama dalam konteks kesehatan. Narasi kesehatan bisa berupa cerita pribadi tentang pengalaman seseorang dengan penyakit, perjalanan pemulihan, atau cerita yang lebih umum tentang upaya pencegahan penyakit. Penelitian menunjukkan bahwa informasi yang disajikan dalam bentuk cerita lebih mudah diingat dan lebih berpengaruh dibandingkan dengan data atau fakta yang disajikan secara langsung.

2. Pengaruh Emosi dan Identifikasi

Cerita dalam konteks kesehatan sering kali memicu respons emosional dan memungkinkan audiens untuk berempati atau mengidentifikasi diri dengan karakter dalam narasi. Ketika seseorang merasa terhubung secara emosional dengan cerita, mereka lebih mungkin untuk memproses informasi tersebut dengan lebih mendalam, yang pada akhirnya dapat memengaruhi perubahan perilaku. Misalnya, cerita tentang seseorang yang berhasil berhenti merokok setelah menghadapi kanker paru-paru dapat memotivasi orang lain untuk mengambil tindakan serupa.

3. Meningkatkan Pemahaman Kesehatan

Narasi kesehatan membantu menyederhanakan konsep-konsep medis yang kompleks dan membuatnya lebih mudah dipahami oleh audiens. Sebagai contoh, dokter atau penyuluh kesehatan dapat menggunakan cerita untuk menjelaskan risiko penyakit tertentu, manfaat pencegahan, atau cara-cara menjaga kesehatan secara umum. Melalui narasi, audiens dapat lebih mudah mencerna dan mengingat informasi yang relevan.

4. Membangun Kepercayaan dan Kredibilitas

Cerita yang diangkat dari pengalaman nyata sering kali dianggap lebih kredibel dan meyakinkan. Dalam konteks kesehatan, kisah pasien atau individu yang berbagi pengalaman mereka terkait penyakit, pengobatan, atau perubahan gaya hidup dapat membantu membangun kepercayaan audiens terhadap sumber informasi. Hal ini juga berperan dalam memperkuat kampanye kesehatan yang menggunakan pendekatan naratif untuk menyampaikan pesan.

5. Perubahan Sikap dan Perilaku

Komunikasi naratif dalam kesehatan memiliki potensi untuk mengubah sikap dan perilaku individu terkait kesehatan. Misalnya, kampanye yang menggunakan narasi tentang pentingnya vaksinasi atau pola makan sehat sering kali lebih berhasil dalam mendorong perubahan perilaku dibandingkan dengan pendekatan informasi yang hanya mengandalkan fakta. Narasi memungkinkan individu untuk melihat dampak langsung dari keputusan mereka terkait kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

6. Narasi sebagai Jembatan untuk Diskusi Kesehatan

Selain berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan informasi, narasi juga dapat menjadi jembatan untuk membuka diskusi lebih lanjut tentang topik kesehatan. Dengan memulai percakapan melalui cerita, audiens dapat merasa lebih nyaman untuk berbagi pengalaman pribadi mereka, mengajukan pertanyaan, atau mencari dukungan. Narasi menciptakan ruang bagi orang untuk berbicara secara terbuka tentang masalah kesehatan yang mungkin sulit mereka ungkapkan dalam konteks lain.

7. Aplikasi dalam Media Sosial

Dalam era digital, penggunaan narasi dalam komunikasi kesehatan juga sangat efektif di media sosial. Cerita yang disampaikan melalui platform seperti TikTok, Instagram, atau YouTube dapat mencapai audiens yang lebih luas dan beragam. Konten kesehatan yang dibungkus dalam cerita menarik lebih cenderung menjadi viral dan mendapatkan perhatian, yang pada akhirnya dapat menyebarkan informasi kesehatan dengan lebih cepat dan luas.

Oleh karena itu teori komunikasi naratif dalam kesehatan menekankan pentingnya menggunakan narasi sebagai alat yang efektif untuk menyampaikan informasi kesehatan, mempengaruhi emosi, membangun kepercayaan, dan mendorong perubahan perilaku. Dengan memanfaatkan kekuatan narasi, para profesional medis dan pendidik dapat mengkomunikasikan pesan kesehatan kepada audiens mereka dengan cara yang lebih mudah dipahami dan berdampak.

Penulis : 

Nandika Daffa Carlotta

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPN VJ)  

 

DISCLAIMER : Artikel ini merupakan opini penulis, dan tidak mewakili sikap Redaksi Okezone.com 

(Rani Hardjanti)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement