JAKARTA – Siapa sosok pahlawan revolusi termuda yang gugur di G30S PKI? Dalam materi pelajaran sejarah, kamu harus tahu pahlawan revolusi termuda yang gugur di peristiwa G30S PKI.
Dalam peristiwa G30S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia) yang terjadi pada tahun 1965, banyak pahlawan yang gugur dalam upaya untuk melindungi negara dari pemberontakan yang dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (29/9/2023) ada tujuh perwira TNI AD yang gugur pada peristiwa tersebut di antaranya adalah :
1. Jenderal Ahmad Yani
2. Mayjen R. Soeprapto
3. Mayjen M.T. Haryono
4. Mayjen S. Parman
5. Brigjen DI Panjaitan
6. Brigjen Sutoyo
7. Lettu Pierre Tendean

Dari ketujuh perwira tersebut, Pierre Tendean merupakan pahlawan revolusi termuda yang gugur pada peristiwa G30SPKI. Ia merupakan anak kelahiran tahun 1939, pada tanggal 21 Februari. Anak dari pasangan Dr. Aurelius Lammert Tendean yang merupakan seorang dokter asal Minahasa dan sang ibu Maria Elizabeth Cornet yang berdarah Belanda – Prancis.
Sejak kecil ia bercita-cita sebagai seorang perwira militer, namun keinginannya itu ditolak oleh orang tuanya, karena mereka ingin Pierre mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter. Hingga pada tahun 1958, ia berhasil lolos tes Akademi TNI-AD, dengan jurusan teknik.
Singkat cerita, ia berhasil menyelesaikan sekolahnya pada tahun 1962 dan terjun langsung memulai karir di dunia militer. Di tugas pertamanya Pierre pergi bertempur dalam pemberantasan PRRI yang letaknya di Sumatera Barat, namun ia ditempatkan di kesatuan Zeni Tempur.
BACA JUGA:
Saat itu ia diangkat sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II Bukit Barisan di Medan. Di samping itu ia melanjutkan pendidikan sekolahnya di Sekolah Intelijen Bogor dan menjalankan tugasnya di berbagai daerah.
Dalam peristiwa G30SPKI, terjadi penculikan dan pembunuhan kepada para petinggi TNI-AD yang bertepatan pada tanggal 1 Oktober 1965, terjadi kegaduhan di rumah Jenderal Nasution. Saat itu pasukan cakrabirawa berhasil mendobrak pintu dan menerjunkan senjata pistol yang mengenai Ade Irma Suryani yang merupakan putri dari Nasution.
Pierre yang sedang tertidur langsung bergegas mengecek keadaan yang gaduh dan menghadapi pasukan cakrabirawa. Ia tidak melarikan diri, melainkan ia mengaku dirinya sebagai Jenderal Nasution, yang pada akhirnya ia diculik dan dibunuh oleh pasukan cakrabirawa. Kemudian jasadnya dimasukkan ke dalam sumur tua yang berukuran sangat sempit dan kecil yang kita kenal sebagai lubang buaya .
Dengan keberanian Pierre Tendean demi melindungi keluarga Jenderal Nasution, ia harus rela dibunuh oleh pasukan cakrabirawa dengan keadaan yang memprihatinkan. Setelah jasad Pierre ditemukan, ia langsung dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, serta mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia Termuda.
(Marieska Harya Virdhani)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik