JAKARTA - Satrawan muda dari tiga negara yakni Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia serta negara pemerhati Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) saling tukar pikiran atau sharing untuk memperluas wawasan dan kemampuan teknis penulisannya.
Hal itu difasilitasi Baadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang menggelar Program Penulisan Mastera: Naskah Drama.
BACA JUGA:
Ini menjadi wahana untuk bertukar pengalaman dan ide kreatif para peserta bersama sastrawan senior melalui bengkel penulisan. Badan Bahasa berperan dalam mendukung program prioritas Kemendikbudristek, yakni dalam hal pelestarian, pelindungan, pengembangan bahasa dan sastra.
"Melalui kegiatan ini, sastrawan muda diharapkan lebih mengenal situasi penulisan puisi, cerpen, novel, drama, esai di negara-negara lain; mengambil manfaat dari pandangan dan kritik sesama sastrawan muda,” kata Sekretaris Badan Bahasa selaku Ketua Mastera Indonesia, Hafidz Muksin, dalam keterangan resmi dikutip Kamis (31/8/2023).
Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand sebagai negara anggota Mastera menyadari pentingnya penyelenggaraan bengkel penulisan kreatif yang kemudian berubah namanya menjadi Program Penulisan Mastera dan dicetuskan sejak tahun 1997. Genre karya pada program penulisan ini bergilir dengan urutan puisi, cerpen, esai, dan drama.
BACA JUGA:
Program Penulisan Mastera telah dilaksanakan dengan genre puisi (1997, 2002, 2007, 2012, dan 2017), genre cerpen (1998, 2003, 2008, 2013, dan 2018), genre esai (1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019), genre drama (2000, 2005, 2010, dan 2015), dan genre novel (2001, 2006, 2011, dan 2016). Setelah selama tiga tahun (2000—2022) vakum akibat adanya pandemi Covid-19, maka pada tahun 2023 Program Penulisan Mastera diselenggarakan dengan genre drama.
Hafidz Muksin juga berharap para peserta dapat menyerap ilmu dan wawasan selama kegiatan berlangsung, bertukar pengalaman dan ide kreatif dengan sastrawan senior maupun sesama sastrawan muda. Peserta yang hadir merupakan pengarang-pengarang kreatif di negara anggota Mastera khususnya dan di negara Asia Tenggara pada umumnya (penyair, cerpenis, esais, dan penulis naskah drama).
“Para pengarang tumbuh dan berkembang lebih banyak dari bakat secara mandiri dan tanpa bimbingan. Proses tersebut belum tentu akan menghasilkan karya-karya unggulan karena mungkin saja bakat yang sudah ada tidak memperoleh kondisi yang kondusif untuk berkembang,” katanya.
Menurut Hafidz Muksin, para pengarang memerlukan wahana khusus dalam bentuk bengkel penulisan supaya bakatnya berkembang secara optimal. “Wadah ini akan memberikan kesempatan bagi pengarang-pengarang kreatif untuk saling mengoreksi kekurangan mereka serta bertukar pengalaman tentang berbagai hal yang berkaitan dengan penulisan kreatif. Kepada sastrawan muda, mari, gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin untuk saling menginspirasi dan menghasilkan karya yang hebat,” ucap Hafidz Muksin.