MAKASAAR - Revolusi industri 4.0 telah memaksa dunia binis, termasuk agribisnis berubah secara fundamental. Dan tentu membutuhkan cara pandang baru untuk bisa berinteraksi dan berintegrasi dengan lingkungan yang berubah cepat.
Pertanian, pun harus diintegerasikan dengan teknologi agar bisa membentuk petani masa depan yang terdidik dan terampil dalam mengelola bisnis.
Persoalan di atas terungkap dalam kuliah umum berjudul "Agribisnis di Era Society 5.0", yang diselenggarakan oleh program studi Agribisnis, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Hasanuddin (UNHAS) pada Kamis (9/2/2023).
Acara yang mengambil tempat di Aula Sekolah Pasca Sarjana UNHAS ini menhadirkan pembicara Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra, Prof. Dr. Mukhamad Najib.
Dalam paparannya, Najib menjelaskan ciri masyarakat 5.0, dimana hal ini merupakan kelanjutan dari revolusi industri 4.0. Dalam masyarakat 5.0, teknologi berfungsi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Jadi, interaksi manusia dengan teknologi tidak harus mendegradasi kemanusiaan, oleh karenanya manusia harus jadi pusat. Teknologi harus dikembangkan untuk kebahagiaan manusia.
Menurutnya, dalam menghadapi masyarakat 5.0, mahasiswa Agribisnis tidak cukup hanya dibekali dengan kemampuan beradaptasi, tapi lebih dari itu, mampu menawarkan pilihan-pilihan baru untuk lebih memudahkan kehidupan. Inilah yang disebut sebagai kemampuan integrasi dengan lingkungan. Pertanian masa depan akan lebih terintegrasi dengan digital teknologi, di mana petani tidak lagi identik dengan keterbelakangan, karena petani harus juga memiliki keterampilan teknologi.
“Integrasi pertanian dan digital teknologi mensyaratkan sumber daya petani yang mengerti teknologi. Artinya petani masa depan adalah petani terdidik, yang terampil dalam mengelola bisnis pertanian dan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menyelesaikan persoalan dan meningkatkan produktifitas. Di sinilah mahasiswa agribisnis akan berperan lebih setelah lulus nanti," ujar Najib.
Keterampilan yang harus dimiliki mahasiswa agribisnis masa depan menurut Najib dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu keterampilan teknologi, keterampilan sosial dan emosional, serta keterampilan kognitif yang lebih tinggi seperti kreatifitas dan problem solving.
Najib yang juga Guru Besar IPB ini, agribisnis di era masyarakat 5.0 adalah agribisnis yang berpusat pada kesejahteraan dan kebahagiaan petani, berorientasi pada keberlanjutan dan harus memiliki ketangguhan.
“Masyarakat Australia misalnya, saat ini mereka sangat memperhatikan apa yang disebut animal welfare. Bayangkan hewan saja harus sejahtera, bagaimana peternaknya? Transaksi yang adil dalam rantai tata niaga pertanian sangat diperhatikan, karena mereka sadar bahwa hal tersebut adalah prasyarat keberlanjutan,” tuturnya.
Sementara, Ketua program studi agribisnis UNHAS, Hatta Jamil, menagtakan kuliah umum ini ditujukan untuk memberikan wawasan baru bagi mahasiswa agribisnis baik S1 maupun S2. Selain itu, saat ini juga merupakan waktu yang tepat untuk meninjau kembali kurikulum di program studi agribisnis UNHAS, sehingga hasil dari kuliah umum dapat menjadi masukan untuk pengayaan kurikulum di waktu yang akan datang.
Kuliah umum yang dihadiri oleh sekitar 400 peserta ini dimoderatori oleh Dr. Muh. Hatta Jamil, SP. selaku Ketua Program Studi Agribisnis UNHAS. Selain mahasiswa, dosen-dosen dari berbagai program studi juga berkesempatan mengikuti kuliah umum. Kuliah umum dilakukan secara hybrid, daring dan luring, sehingga peserta dari luar UNHAS juga dapat mengikuti kegiatan kuliah umum secara luring.
(Angkasa Yudhistira)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik