Dari refleksi diri ini, Zahid jadi mengetahui prioritas apa yang harus dilakukan di tahun yang akan datang.
Salah satu poin penting dalam merefleksi diri adalah untuk mengetahui di aspek mana saja kita telah mengalami kegagalan.
“Nah biasanya di sini adalah salah satu poin di mana aku paling bingung, karena meskipun namanya kegagalan, ketika suatu kegagalan terjadi, dan aku memberikan waktu yang cukup kepadanya, nanti di masa depannya itu aku melihat kegagalan itu dan merasa bersyukur. Jadi sekarang tuh hal yang dulunya aku anggap kegagalan itu justru aku anggap sebagai kayak titik-titik belajar atau turning point yang mengantarkanku ke posisi yang ternyata jauh lebih cocok dan jauh membuatku lebih happy, lebih pinter, lebih kuat, dan lebih siap,” ujar Zahid.
Kegagalan Zahid yang pertama adalah kegagalan dalam menulis buku. Sempat bingung topik apa yang akan diangkat oleh Zahid menjadi sebuah buku, ia pun akhirnya memilih untuk istirahat terlebih dahulu dan berpikir akan menulis topik apa pada bukunya nanti.
“Ternyata setelah aku ambil istirahatnya, justru aku semakin bingung. Aku gak tau topik apa lagi yang mau aku bikin saat ini,” jelas Zahid.
Kegagalan Zahid yang berikutnya adalah pada bidang akademik. Salah satunya adalah saat ia salah mengambil jurusan perkuliahan hingga membuatnya mengundurkan diri dari kampus sebelumnya.
Namun dari kegagalan tersebut, Zahid merasa bersyukur karena saat ini ia akhirnya diantarkan ke jurusan perkuliahan yang lebih cocok untuknya.
Selanjutnya, Zahid kemudian mengatakan bahwa dirinya merasa gagal menjadi anak yang baik. Ia lantas menceritakan kenakalan-kenakalan yang dilakukan semasa kecil terhadap kedua orang tuanya, hingga bagaimana sikap orang tuanya yang tetap berkepala dingin setelah mengetahui anaknya melakukan kesalahan.