Share

Belajar Bahasa Isyarat di Kelas Khusus Memperingati Hari Disabilitas Internasional

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 02 Desember 2022 12:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 624 2719206

MALANG - Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember diperingati berbeda oleh sekumpulan anak muda di Kota Malang.

Mereka mengadakan kelas belajar bahasa isyarat yang sesuai standar para tuna rungu.

Kelas bahasa isyarat bertajuk 'Isyarat: Inklusivitas Tanpa Syarat' yang diadakan Ngalup Collaborative Network bekerja sama Difalink dan Akar Tuli diikuti tak kurang 42 peserta dengan sistem hybrid atau offline di ruangan maupun yang mengikuti melalui online, pada Jumat (2/12/2022).

Sebanyak 20 orang mengikuti praktik langsung secara offline di kantor Ngalup.co sisanya mengikuti kelas secara online.

 BACA JUGA:Mahasiswa di Malang Ciptakan Masker Anti Covid-19 Khusus bagi Tuna Rungu

Menariknya para peserta mayoritas bukanlah penyandang difabel melainkan mereka yang memiliki fisik normal dan sehat.

Pesertanya pun datang dari beragam latar belakang mulai dari siswa sekolah SMA sederajat, mahasiswa, pekerja, hingga para ibu rumah tangga.

Follow Berita Okezone di Google News

Di bawah bimbingan tutor seorang tuna rungu, peserta mendapat materi dasar mengenai gerakan tangan bahasa isyarat yang standar.

Mereka dikenalkan bahasa isyarat mulai dari paling dasar dahulu seperti ekspresi tersenyum, menangis, hingga marah.

Selanjutnya bahasa isyarat dari huruf abjad mulai A sampai Z dengan gerakan tangan standar diperagakan.

Tak cuma materi saja, para peserta juga langsung diajak berkomunikasi dan mempraktikkan dengan beberapa penyandang tuna rungu yang hadir pada kelas bahasa isyarat ini.

Meski terlihat sulit para peserta tampak antusias mengikuti setiap materi dan praktek dari bahasa isyarat.

Beberapa di antara mereka ada yang baru pertama kali memahami penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia yang standar bagi kaum tuna rungu.

Ananda Kusuma Wardhani, seorang peserta kelas bahasa isyarat menyatakan, tertarik mengikuti kelas bahasa isyarat ini agar memudahkannya berkomunikasi dengan teman yang menyandang tuna rungu.

Sebab selama ini ia hanya mengerti beberapa bahasa isyarat terutama yang terkait aktivitas seperti makan, tidur, hingga menangis.

"Banyak orang yang masih baru kayak komunikasi sama orang disabilitas sulit, saya juga tertarik kayak gimana sih cara komunikasi langsung dengan orang disabilitas. Saya pribadi juga punya teman yang disabilitas, tapi bingung saja cara komunikasinya," ucap Yayuk, panggilan akrabnya.

Siswa SMK Telkom kelas XII ini menuturkan, selama ini ia hanya mengandalkan menulis di sebuah kertas atau buku untuk berkomunikasi dengan temannya penyandang tuna rungu.

Tetapi hal itu tentu cukup memakan waktu dan tak efektif, sehingga dari situlah ia memutuskan untuk belajar pada kelas bahasa isyarat yang digagas Ngalup Collaborative Network atau Ngalup.co.

"Lumayan dapat banyak pelajaran sih. Saya juga baru tahu di sini, banyak istilah-istilah baru yang saya dapat di sini," tuturnya.

Sementara itu saat praktik Yayuk juga mengakui baru tahu ada gerakan yang berbeda selama ini.

Bahkan gerakan di tangan kiri dan kanan yang berbeda, membuat arti yang ditangkap penyandang tuna rungu beda.

"Kita akan belajar langsung sama yang disabilitas itu, jadi, istilahnya kayak beda arti. Makanya kita harus benar-benar paham, lihatnya harus teliti, itu yang jadi tantangan," tuturnya.

Di sisi lain Partnership Associate Ngalup Syauqi Nur Muhammad mengugkapkan, berawal dari kedatangan anak magang tuna rungu inilah inspirasi mengadakan kelas belajar bahasa Isyarat tercetus.

Apalagi pembelajaran Bahasa Isyarat ini juga memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember besok, yang membuat pihaknya ingin berkontribusi terhadap inklusivitas.

"Termudah belajar bahasa isyarat ini, walaupun mungkin agak impossible kalau misalkan cuma sehari doang, tetapi yang penting kita tahu cara mengenalkan diri, tahu abjad-abjad yang membantu bisa berkomunikasi dengan disabilitas (tuna rungu), itu bentuk kita sduah mau aware dan ikut menjunjung equality," jelas Uqi panggilan akrabnya.

Di kelas ini menurut Uqi, lebih spesifik pada bahasa isyarat Indonesia atau yang disebut Bisindo.

Sebab ada perbedaan antara bahasa isyarat Indonesia dan internasional, hal ini yang membuat pihaknya juga langsung mendatangkan tutor dari seorang tuna rungu.

"Di kelas kami bisindo, memang ada yang untuk internasional, kita mulai yang bisindo dulu. Disabilitas seluruh Indonesia Insya Allah paham," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini