Share

Bagaimana Orang Bisa Percaya dengan Ramalan Zodiak? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Sarah Raihan Septiana Afifah, Presma · Jum'at 25 November 2022 14:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 65 2714741 bagaimana-orang-bisa-percaya-dengan-ramalan-zodiak-begini-penjelasan-ilmiahnya-0A0isvFbZY.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Banyak orang yang memercayai astrologi dan kerap mencari tahu peruntungannya melalui ramalan Zodiak.

Tentunya kita akan senang jika menemukan ramalan zodiak yang tertulis hal-hal baik akan menghampiri kehidupan kita.

Meskipun ada sedikit keraguan, namun tak jarang sebagian kecil dari diri kita masih mau memercayai hal tersebut sebagai hal yang benar adanya.

Padahal bukti nyata secara ilmiah nyaris tidak ada. Ya, astrologi dan prediksi akan masa depan masih beberapa kali terlihat di sosial media.

Seperti yang seringkali terlihat di Twitter bahwa beberapa orang deskripsikan diri mereka maupun orang lain berdasar pada zodiaknya.

Melakukan generalisasi seolah-olah tiap zodiak memiliki sifat-sifat tertentu yang dimiliki. Rating individu berdasar zodiak juga tak jarang dilakukan.

Beberapa pertanyaan seperti, “Kalian berani kasih berapa untuk orang dengan zodiak Virgo?” atau permintaan seperti “Rating Aries dong!” Lalu beberapa komentar muncul, “Taurus tuh 8/10 soalnya dia—“ begitu misalnya, lalu muncul balasan “Aku sebagai zodiak Taurus ngerasa banget kayak gitu!”

Fenomena ini mungkin sering terlihat di sekitar. Akan tetapi, penasaran tidak sih, mengapa manusia bisa mempercayai hal tersebut?

Dalam psikologi sendiri, fenomena tersebut seringkali dikenal dengan efek Barnum atau dalam bahasa Inggris, Barnum Effect.

Barnum Effect atau juga dikenal dengan Forer Effect, merupakan kecenderungan individu untuk menerima dan menganggap deskripsi maupun prediksi yang samar tentang kepribadiannya sebagai deskripsi yang akurat tentang dirinya (Furnham & Schofield, 1987; Mason & Budge, 2011, dalam Poskus, 2014).

Menandakan bahwa deskripsi yang disampaikan seringkali dianggap sesuai dan digeneralisir sehingga dirasa akurat bagi kebanyakan orang.

Orang-orang merasa informasi tersebut akurat dan berbicara mengenai mereka padahal sebenarnya—ya, itu hanya informasi umum.

Lantas, bagaimana efek ini bisa terbentuk?

Semuanya berawal dari P.T Barnum, seorang pebisnis, politisi, dan pendiri kelompok sirkus yang senang sekali untuk memanipulasi keyakinan orang bahwa dirinya memahami kepribadian orang tersebut dengan memberikan deskripsi luas mengenai kepribadian.

Sehingga orang tertipu dan menganggap istilah tersebut unik bagi mereka. Unik ya? Nah kemudian, Bertram Forer, seorang psikolog asal Amerika, pada tahun 1949 melakukan eksperimen untuk menguji hipotesisnya yang berasumsi bahwa sangat mudah bagi seseorang untuk setuju terhadap deskripsi yang tidak jelas kebenarannya mengenai diri mereka tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya deskripsi tersebut dapat diterapkan pada semua orang, tidak hanya mereka.

Forer melakukan eksperimennya dengan memberikan tes kepribadian pada sejumlah muridnya dan menggambarkan hasilnya berdasarkan berita mengenai astrologi, tidak diukur layaknya psikolog professional lakukan pada umumnya.

Menariknya, sebagian besar murid yang menjadi subjek memberikan rating 4 yang menandakan bahwa alat ukur kepribadian yang digunakan merupakan alat ukur yang baik dan valid dalam mengukur kepribadian.

Menunjukkan bahwa mereka percaya pada deskripsi kepribadian yang tidak begitu jelas kebenarannya!

Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Fichten dan Cunerton (1983) menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi individu untuk mempercayai deskripsi kepribadian berdasarkan zodiak, di antaranya adalah sebagai berikut.

Perbedaan individu yang berkaitan dengan kebiasaan membaca ramalan;

Reliabilitas dan validitas dari deskripsi kepribadian berdasarkan ramalan; serta

Pengetahuan bahwa deskripsi kepribadian berdasarkan zodiak dan astrologi ditujukan pada tanda zodiak tertentu.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa deskripsi kepribadian yang disampaikan menimbulkan efek familitaritas bagi individu sehingga diyakini dan dianggap sebagai deskripsi yang akurat oleh individu.

Misalnya, ramalan menyebutkan bahwa “Sebagai seseorang dengan zodiak Taurus, kamu adalah orang yang setia,” membuat seseorang yang apabila nantinya mendapatkan ramalan yang terus menekankan bahwa dirinya adalah orang yang setia menjadi percaya dan yakin bahwa dirinya, sebagai seorang dengan zodiak Taurus, memanglah orang yang setia.

Oleh karenanya, penelitian Fichten & Cunerton (1983) menyimpulkan bahwa reliabilitas dari deskripsi, pengetahuan bahwa deskripsi tersebut dikhususkan pada zodiak tertentu, adanya efek Barnum, serta familitaritas merupakan hal yang membuat individu percaya dan menerima bahwa deskripsi kepribadian berdasarkan astrologi sebagai sesuatu yang akurat dan benar adanya.

Percaya atau tidak terhadap deskripsi diri berdasarkan astrologi atau zodiak tentu bukanlah masalah selama hal itu dilakukan dalam batas wajar dan mampu menjadi refleksi diri untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Akan tetapi, perlu diingat bahwasanya sesuatu yang berlebihan bukanlah hal baik. Jangan sampai akibat terlalu percaya akan ramalan, kalian merasa bahwa hal yang terjadi di luar ramalan atau deskripsi yang tidak sesuai sebagai sesuatu sangat buruk hingga berefek pada terganggunya keberlangsungan hidup atau merusak hubungan dengan orang lain.

Sarah Raihan Septiana Afifah

 

Aktivis Persma Erythro FK UNS

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini