Pertama, memperluas layanan perbankan kepada seluruh lapisan masyarakat. Kedua, menyusun kebijakan perbankan yang berbasis luaran.
Ketiga, mengadakan forum terbuka dengan semua pelaku industri. Keempat, membuat aplikasi induk yang terintegrasi untuk seluruh layanan perbankan.
Gubernur BI merespons bahwa di tengah era digital saat ini, bank tetap harus menjalankan bisnis sesuai prinsip kehati-hatian, taat terhadap peraturan dan mengutamakan layanan serta kinerja (performance).
“Data nasabah sangat berharga dan rentan bocor. Oleh sebab itu, harus ada struktur hukum yang kokoh terlebih dahulu untuk melindungi data nasabah,” ucap Perry yang juga memberikan kuliah umum bertema Bank Sentral, Transformasi Digital dan Pemulihan Ekonomi Indonesia Paska Covid-19.
Perry juga memaparkan inovasi BI untuk mendorong layanan digitalisasi perbankan melalui Quick Response Indonesian Standard (QRIS).
QRIS sangat efektif mendorong digitalisasi UMKM dan pertumbuhan ekonomi keuangan syariah.
“Kami berhasil menggabungkan QR code berbagai perusahaan ke dalam platform QRIS dan Gerbang Pembayaran Nasional. Hanya 16% usaha yang belum bergabung ke dalam platform pembayaran yang terintegrasi ini,” ucapnya.
Kegiatan yang digelar di kampus City University of London tersebut juga menghadirkan Aulia Syakhroza, seorang diaspora Indonesia yang menjadi tenaga pengajar di Bayes Business School.
Selain itu, terdapat sejumlah mahasiswa S3 lainnya yang memaparkan hasil riset mereka. Antara lain Imaddudin Abdullah dan Mayang Rizky, kandidat doktor di Kings’s College London. Masing-masing meneliti tentang industrialisasi di Indonesia, dan pekerja informal di dalam emerging economy.