Share

Raih Star of Excellence Award, Poppy Rufaidah Cerita Pengalaman Jadi Atikbud KBRI Washington D.C.

Agung Bakti Sarasa, MNC Portal · Minggu 13 November 2022 17:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 13 65 2706604 raih-star-of-excellence-award-poppy-rufaidah-cerita-pengalaman-jadi-atikbud-kbri-washington-d-c-BZgjHTdphj.jpg Profesor Popy Rufaidah/Dok. Unpad

BANDUNG - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), Popy Rufaidah menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan penghargaan "Star of Excellence Award" dari America-Eurasia Center, Washington, D.C.

Popy terpilih menerima penghargaan karena menginisiasi pembentukan asosiasi bagi para Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atikbud) dari berbagai perwakilan kantor kedutaan besar di Amerika Serikat.

Popy yang menjabat Atikbud Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington, D.C. periode Desember 2018-September 2022 itu pun menceritakan pengalamannya saat menjabat Atikbud KBRI Washington, D.C.

Menurut Popy, dirinya terpilih sebagai Atikbud berdasarkan hasil seleksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

"Atase Pendidikan dan Kebudayaan yang ditempatkan di Washington D.C. direkrutnya atau diseleksinya oleh Kemendikbudristek waktu tahun 2018," ungkap Popy melalui sambungan telepon selulernya, Sabtu (12/11/2022).

"Jadi Atikbud ini wakil menteri di luar negeri, perpanjangan tangan untuk masalah kebudayaan dan pendidikan. Kemudian, ditempatkannya itu oleh menlu (menteri luar negeri) karena sebagai perwakilan Republik Indonesia di luar negeri," sambung dia.

Follow Berita Okezone di Google News

Menurutnya, bekerja sebagai Atikbud di Washington, D.C. memiliki tantangan tersendiri salah satunya meyakinkan mitra di Amerika Serikat untuk bekerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi.

"Potensi kerja sama dengan Amerika Serikat terbuka luas, tinggal bagaimana kita proaktif. Amerika Serikat negara yang sangat menghargai kompetensi dan keunggulan yang dimiliki seseorang, hal tersebut perlu dipresentasikan dengan sebaik-baiknya. Siapa yang bisa menyampaikan dan meyakinkan, itu bisa menjadi penguat kerja sama," tuturnya.

Poppy pun menyebut bahwa ada tiga tugas utama Atikbud. Pertama, meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi.

"Karena kan tupoksinya di bawah Kemendikbudristek, jadi salah satunya saya itu membantu kerja sama perguruan tinggi Amerika Serikat dengan Indonesia dan bentuknya macam-macam," ujarnya.

Kedua, meningkatkan jumlah orang Amerika Serikat yang bisa berbahasa Indonesia. Oleh karenanya, di KBRI Washington D.C. ada kelas Bahasa Indonesia khusus orang asing.

"Kelasnya di KBRI bekerja sama dengan Universitas di Amerika. Ada 14 perguruan tinggi yang mengajarkan Bahasa Indonesia," ungkapnya.

Terakhir, mempromosikan kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat seperti mempromosikan alat kesenian tradisional Sunda, angklung.

"Kami punya program angklung. Misalnya lewat diplomasi angklung karena kan angklung mudah ya. Programya dinamakan Angklung Goes To America dimana angklung bisa dimainkan oleh anak-anak SD hingga mahasiswa. Jadi mengajarkan angklung di program kurikulum universitas, itu salah satu program kami," katanya.

Lebih lanjut Popy mengatakan, agar kebudayaan Indonesia semakin dilirik Amerika, Indonesia bisa mencontoh Korea dan China yang sudah memiliki pusat kebudayaan di Washington D.C. Kehadiran pusat kebudayaan, kata Popy, akan semakin menarik minat masyarakat asing kepada budaya Indonesia.

"Korea itu punya pusat kebudayaan di Washington D.C. sedangkan Indonesia tidak punya. Budaya K-POP juga di Amerika itu meledak seperti halnya di Indonesia karena mereka punya kantor kebudayaan khusus, Korean Culture Center di sana," terangnya.

"China pun sama. Pemerintah China juga di sana kedutaan besarnya sangat aktif, mereka bahkan punya komunitas-komunitasnya," tambah Popy.

Popy berharap, Indonesia ke depan memiliki pusat kebudayaan di Washington D.C. yang dapat menampilkan seni dan budaya secara profesional dan berkelas hingga dapat menjadi rujukan.

"Karena melalui seni dan budaya itu terjadi yang namanya soft diplomasi. Diplomasi lebih menyentuh dan lebih bisa meningkatkan preferensi dan brand image yang positif terhadap Indonesia," tandasnya.

Diketahui, Popy Rufaidah meraih meraih penghargaan "Star of Excellence Award" dari America-Eurasia Center yang merupakan salah satu organisasi wadah pemikir (think tank) tertua dan bereputasi di Amerika Serikat.

Menurutnya, penghargaan ini diberikan atas upayanya memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat dan menyatukan pimpinan kedutaan besar bidang pendidikan dan kebudayaan yang ada di Amerika Serikat.

"Penghargaan ini berbeda dengan sebelumnya. America-Eurasia Center memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan KBRI melalui Atikbudnya dalam memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat dan menyatukan para Atikbud sehingga terbentuk Asosiasi Atikbud se-Amerika Serikat di Washington D.C.," kata Popy dikutip dari laman resmi Unpad, Sabtu (12/11/2022).

Dalam hal ini, Popy terpilih mendapatkan penghargaan sebagai sosok yang menginisiasi pembentukan asosiasi bagi para Atikbud dari berbagai perwakilan kantor kedutaan besar di Amerika Serikat.

Inisiasi yang dilontarkan Popy tersebut telah digaungkan pada pertemuan yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Bidang Pendidikan dan Kebudayaan di Washington, D.C. pada awal Januari 2020 lalu.

Meski terkendala pandemi, apa yang dilakukan Popy berbuah manis. Pada 25 Mei 2022, resmi terbentuk Asosiasi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Amerika Serikat/Washington Educational & Cultural Attaché Association (WECAA).

"Kiprah ini yang dianggap America-Eurasia Center sebagai sesuatu yang perlu diapresiasi karena belum pernah ada asosiasi seperti ini," kata Popy yang menjadi Presiden pertama WECAA itu.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini