Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Review Buku A Cup of Tea: Berjalan Menghadapi Lika-liku Kehidupan

Salsabyla Farihati , Jurnalis-Rabu, 26 Oktober 2022 |15:01 WIB
Review Buku A Cup of Tea: Berjalan Menghadapi Lika-liku Kehidupan
Buku A Cup of Tea/Dok. gitasav.com
A
A
A

Pengalaman baru serta orang-orang baru memiliki cerita menariknya masing-masing.

Tetapi ada satu orang yang paling berkesan bernama Elias Escribano, bagi Elias, ini adalah pertukaran pelajar ke 27, bahkan ia sedang menjalankan proyek pribadinya yaitu bersepeda dari Spanyol ke New Zealand. Free spirit, bukan?

Setelah melalui berbagai hal, termasuk pergi ke San Fransisco, Amerika Serikat untuk mengikuti konferensi IT terbesar di dunia. Gita memutuskan untuk menikah dengan Paul, seorang mualaf yang berhasil membuat Gita nyaman, dapat menerima Gita apa adanya dan tentunya sama-sama berjalan satu arah, bagi Gita di sinilah pentingnya memiliki pasangan yang satu frekuensi.

Perjalanan Gitasav tak hanya sampai ia menikah, setelah menikah pun ia masih banyak menemukan banyak hal baru termasuk cobaan yang bisa saja merobohkannya hanya dalam sekejap.

Cyber bullying, salah satu hal menyakitkan yang pernah ia rasakan, bahkan ia sampai melakukan berbagai cara untuk menghilangkan depresinya, dari mulai curhat ke teman, curhat ke psikologi, dan lain-lain.

Lalu bagaimana cara Gitasav keluar dari zona yang begitu menyakitkannya?

A Cup of Tea merupakan buku kedua Gita Savitri. Dalam buku ini ia lebih menceritakan tentang kehidupannya di Jerman, juga perjalanannya ke berbagai negara, sehingga membuat para pembaca ingin mencicipi suasana di luar negeri, apalagi cara Gitasav menyampaikan hal tersebut cukup menarik disertai beberapa gambar yang full colour, membuat buku ini semakin menggiurkan.

Di sela-sela penggambaran negara yang dikunjungi, Gitasav juga menyelipkan pengalaman serta hikmahnya.

Selain itu tak jarang ia memberikan opini perihal apa yang sedang dirasakan oleh dirinya, seperti ketika ia menikah dengan Paul, berpisah dengan orang yang ia sayang atau ketika ia di bully di media sosial.

Salah satu bagian yang menarik ketika Gitasav menggambarkan negara Swiss dan ketika membahas tentang Sulli (salah satu artis korea) yang bunuh diri karena mendapat perundungan dari netizen.

Ajakan Gitasav dalam bukunya untuk berhenti mem-bully seseorang sungguh mengesankan dengan segala opini yang ia tulis.

Sedangkan untuk Swiss sendiri, Gitasav berhasil membuat pembaca jatuh cinta pada negara tersebut.

Dibanding buku pertama Gitasav yang berjudul Rentang Kisah, isi buku keduanya ini lebih berbobot karena pembahasannya pun lebih meluas, banyak pemikiran Gitasav yang dituangkannya di buku ini, meskipun peralihan dari satu pembahasan ke pembahasan lainnya itu terlalu cepat.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement