JAKARTA - Buku yang berjudul Perempuan di Tititik Nol karangan Nawal El-Saadawi mengisahkan seorang perempuan bernama Firdaus yang merupakan seorang perempuan yang memperjuangkan hak dan harga dirinya sebagai manusia di dunia yang membeda-bedakan hak antara laki-laki dan perempuan.
Firdaus merupakan seorang pekerja seksual komersial yang memegang teguh harga dirinya.
Terlihat dari berbagai kisah yang disajikan dalam buku tersebut, Firdaus beberapa kali mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
Misalnya perlakuan pamannya Firdaus yang acap kali memukuli dan mengawinkan Firdaus dengan seorang yang kaya raya tanpa mempertimbangkan diri Firdaus sendri.
Atau ketika dia bertemu seseorang yang kiranya akan menyelamatkan hidupnya, tapi ternyata malah memperalatnya menjadi pemuas nafsu belaka.
Di lain kisah, Firdaus bertemu seorang perempuan bayaran. Dan diajaklah dia ke sebuah apartemen kepunyaan perempuan itu.
Setiap harinya ada laki-laki yang datang ke kamarnya untuk menyetubuhinya.
Firdaus sadar bahwa tubuhnya selama ini bukan miliknya, dia tidak mematok harganya sendiri, harga tubuhnya selalu ditentukan orang lain.
Mulailah Firdaus mematok harga tubuhnya sendiri dan mempunyai hidup yang mewah, Memiliki tempat tinggal yang layak, pakaian yang mewah juga makanan yang lezat.
Sampai suatu ketika datanglah seorang laki-laki yang bekerja sebagai germo yang ingin memiliki tubuhnya.
Dengan beralasan bahwa pelacur yang sendiri tanpa adanya seorang germo akan sulit mendapatkan keamanan.
Dengan ancaman itu Firdaus setuju dengan ajakan tersebut.
Sampai suatu ketika, Firdaus merasa lelah karena uang yang dia hasilkan sekarang tidak sebanyak uang yang dihasilkan dia ketika tubuhnya dimiliki oleh dirinya sendiri.
Firdaus hendak melarikan diri dari germo tersebut, tapi dia menghadangnya sampai dia menodongkan pisau ke arah Firdaus.
Tetapi tangan Firdaus cepat mengambil pisau tersebut dari tangannya dan menancapkan pisau itu ke leher germo tersebut.
Atas pembunuhannya Firdaus dipenjara dan dijatuhi hukuman mati. Beberapa kali Firdaus ditawari untuk keluar dari penjara dan dibebaskan dari hukuman tersebut, Firdaus tetap menolak.
Dia telah kehilangan hasrat untuk hidup juga tidak takut untuk mati.
“Selama hidup itu adalah keinginan, harapan, ketakutan kita yang memperbudak kita”, itu adalah kata-kata yang disampaikan Firdaus kepada Nawal sebelum dia dihukum mati.
Novel ini menyimpan pesan yang begitu dalam, tentang bagaimana seorang laki-laki harus memperlakukan seorang wanita dengan begitu hormat.
Dari mulai memperlakukan dia sebagai manusia dan menjunjung tinggi juga haknya sebagai manusia.
Firdaus juga mengajarkan kita tentang bagaimana memperjuangkan hidup di tengah-tengah masyarakat yang membedakan hak berdasarkan gender atau status sosial.
Juga mengajarkan kita untuk menjadikan tubuh kita bebas tidak diperbudak oleh pihak lain.
Fauzan Nugraha
Aktivis Persma Suaka UIN Bandung
(Natalia Bulan)