Share

Mengenal Budaya Suku Anak Dalam

Aryo Hadi Wibowo, Okezone · Rabu 19 Oktober 2022 17:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 19 624 2690485 mengenal-budaya-suku-anak-dalam-WAiC3b4zqi.jpg Ilustrasi Suku Anak Dalam/Okezone

JAKARTA - Mengenal budaya suku anak dalam akan dibahas pada artikel Okezone kali ini.

Indonesia dikenal memiliki banyak suku dan budaya bangsa. Perkiraan lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Indonesia menurut sensus BPS tahun 2010.

Suku banyak tersebar di Indonesia, seperti pulau Jawa, Sulawesi, dan bagian timur Indonesia, dan tidak bukan adalah Sumatera, salah satunya suku anak dalam yang berada di Jambi Sumatera Selatan.

Merupakan suku asli sekaligus menjadi suku minoritas.

Mereka tinggal di pedalaman dan minim interaksi dengan dunia luar. Suku ini masih bertahan sampai saat ini, dan suku Anak Dalam dikenal teguh mempertahankan budayanya.

Simak tentang mengenal budaya suku Anak Dalam.

Asal usul suku Anak Dalam

Menurut tradisi lisan, nenek moyang suku Anak Dalam asalnya dari Maalau Sesat.

Mereka melakukan nomaden ke hutan rimba yang ada di Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas.

Follow Berita Okezone di Google News

Tetapi ada yang berpendapat orang Anak Dalam berasal dari Pagaruyung yang mengungsi ke Jambi.

Sumber lain yang dikumpulkan Muchas pada tahun 1975 menyatakan bahwa ia telah mempelajari berbagai cerita lisan mengenai suku Anak Dalam. Muchlas berkesimpulan bahwa suku Anak Dalam berasal dari 3 keturunan, yaitu:

- Keturunan Minangkabau di Kabupaten Bungo Tebo dan Mersan.

- Keturunan Sumatera Selatan di Kabupaten Batanghari.

- Keturunan asli Jambi yang merupakan Kubu Air Hitam di Kabupaten Sarolangun Bangko.

Suku Anak Dalam dikisahkan sebagai sekumpulan masyarakat yang pantang menyerah.

Tahun 1904, perang antara Jambi dan Belanda akhirnya berakhir. Saat itu Jambi dipimpin oleh Raden Perang yang merupakan cucu dari Raden Nagasari.

Sejarah menurut departemen sosial

Saat Kerajaan Jambi dan Kesultanan Palembang tidak henti-hentinya berkonflik, padahal mereka dari rumpun yang sama.

Tahun 1629 mereka berperang dan tersisa dari pertempuran ini tetap berdiam di hutan rumba, namun sebagai 2 kelompok masyarakat yang berbeda.

Versi departemen, menjelaskan ada 2 kelompok suku Anak Dalam. Keduanya memiliki adat istiadat, ciri fisik, dan bahasa yang berbeda. Tempat tinggalnya pun berbeda.

Suku Anak Dalam yang tinggal di hutan belantara Musi, Berbicara dengan bahasa Melayu.

Mereka berkulit kuning dan memiliki ciri fisik seperti ras Mongoloid, dipercaya mereka keturunan dari kesultanan Palembang

Suku Anak Dalam yang tinggal di hutan Jambi, memiliki rambut ikal, kulit sawo matang, bentuk mata menjorok ke dalam.

Tergolong ras Weddoid atau Wedda dan Negrito. Etnis ini kemungkinan dari Kerajaan Jambi.

Adat istiadat

Suku Anak Dalam menganut sistem kekerabatan matrilineal. Terdapat keluarga kecil dan keluarga besar.

Keluarga kecil terdiri dari suami dan istri dan anak yang belum menikah, sementara keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga kecil dari pihak kerabat istri.

Anak laki yang sudah menikah harus bersama keluarga kerabat istri, satu keluarga besar tinggal di satu pekarangan yang terdapat dari 2 sampai 3 pondok. Disitulah keluarga kecil tinggal.

Suku ini menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa keluarga yang menganut agama Islam.

Pakaian suku Anak dalam pun masih mengenakan pakaian yang sangat sederhana.

Pria mengenakan cawat, sementara wanita mengenakan bawahan seadanya lalu atasan hanya ditutupi kain.

Suku Anak Dalam juga mempunyai beberapa aturan dalam menjalankan hidupnya, yaitu masih mengandalkan nomaden, mereka juga meminimalisir budaya luar dengan sangat ketat, melarang berduaan laki-laki dan perempuan.

Ketika kekuatan mereka akan di kawin paksa, namun sebelum itu mereka harus menempuh hukum seperti dicambuk rotan, karena sangat memalukan bagi kedua bela pihak orangtua.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini