Share

Cerita dan Teriakan Putri Pahlawan Revolusi DI Panjaitan pada Malam G30SPKI

Rina Anggraeni, Okezone · Jum'at 30 September 2022 09:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 624 2677895 cerita-dan-teriakan-putri-pahlawan-revolusi-di-panjaitan-pada-malam-g30spki-qC1Wu2VAHc.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JAKARTA- Cerita dan teriakan Putri pahlawan revolusi DI Panjaitan pada malam G30SPKI menarik diulas. 30 September 1965, merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia yang dikenal dengan sebutan Tragedi G30S PKI. Kendati hanya berlangsung satu malam, terdapat banyak detail-detail dari peristiwa mencekam kudeta ini.

Sebab, Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.

Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Follow Berita Okezone di Google News

Cerita dan teriakan Putri pahlawan revolusi DI Panjaitan pada malam G30S/PKI yakni  Catherine Pandjaitan,menyaksikan langsung ketika sang ayah ditembak dan tewas di hadapan dirinya. Catherine sempat mengalami trauma dalam setahun pertama pasca peristiwa terjadi.

Rasa marah, sedih dan sesal menjadi sarapan sehari-hari Catherine selama berpuluh tahun. Namun perlahan-lahan wanita kelahiran Jakarta 8 Juli 1947 bisa melapangkan dada dan memilih untuk memaafkan para pelaku pembunuh ayahnya.

Sebagai informasi, Brigadir Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac (D.I) Panjaitan adalah pahlawan revolusi yang menjadi korban penculikan dalam tragedi G-30-S/PKI.

Pria kelahiran Sumatera Utara, 19 Juni 1925 ini ber bersama pemuda anak bangsa lain dulunya merintis pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang merupakan cikal bakal TNI saat ini.

Karier militer Pandjaitan dimulai pada masa pendudukan Jepang, ketika menjabat Shodanco (setara mayor) Peta (Pembela Tanah Air) di Pekanbaru, Riau.

Dibesarkan dalam pendidikan misi Zending dari Jerman, Rheinische Mission Geselchaft (RMG), Pandjaitan terampil berbahasa Jerman. Pandjaitan menjadi atase militer RI di Bonn, Jerman Barat antara 1956-1962.

Ketika Ahamd Yani dilantik menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat, pada 21 Juli 1962, Pandjaitan ditetapkan sebagai Asisten IV yang membidangi logisitik. Pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal.

Pandjaitan menjadi pembantu Yani yang berperan dalam menghalau pengaruh komunis.

(RIN)

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini