Share

Mahasiswa UPH Kampus Medan Ciptakan Aplikasi Kampanye Lingkungan Berinsentif, Jadi Pertama di Indonesia

Natalia Bulan, Okezone · Senin 26 September 2022 11:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 26 65 2674994 mahasiswa-uph-kampus-medan-ciptakan-aplikasi-kampanye-lingkungan-berinsentif-jadi-pertama-di-indonesia-LUtTqqYY8X.jpg Mahasiswa UPH ciptakan aplikasi kampanye lingkungan berinsentif/Dok. UPH

JAKARTA - Dua mahasiswa Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Universitas Pelita Harapan (UPH) Kampus Medan angkatan 2019, Kenrick Tandrian dan Kenji Marwies menciptakan aplikasi kampanye lingkungan berinsentif pertama di Indonesia bernama EcoSense.

Kenrick dan Kenji panggilan akrab mereka, merancang aplikasi ini dengan mendapatkan pelatihan dan bimbingan dari sebuah program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI yang berkolaborasi dengan Google, GoTo, Traveloka untuk program Kampus Merdeka - Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), Bangkit Academy 2022.

Melalui serangkaian proses seleksi, meliputi peer review dan judging session, EcoSense berhasil lulus menjadi salah satu dari Top 15 Product-Based Capstone Project dari 433 proyek yang bersaing.

EcoSense juga berkesempatan memperoleh mentor industri dan dana inkubasi sebesar 140 juta dari Google dan Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), serta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek).

EcoSense merupakan hasil dari proyek akhir berbasis produk (product-based capstone project) yang dikerjakan secara kolaborasi oleh 6 mahasiswa Indonesia yang terdiri dari Darren Ngoh (UI), Mirsa Salsabila (UI), Deddy Romnan Rumapea (UNJA), Rivano Ardiyan Taufiq Kurniawan (UPNVY), Kenrick Tandrian (UPH), Kenji Marwies (UPH).

EcoSense merupakan sebuah socio-startup (startup yang bergerak di bidang sosial) yang berfokus pada pengadaan kampanye lingkungan berinsentif yang dapat diikuti oleh semua orang dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan.

Dengan tagline “Save Earth, Save Lives!”, EcoSense berharap dapat menjadi tempat untuk masyarakat bersama sama melindungi Bumi dengan melakukan hal-hal kecil yang positif yang dapat dilakukan oleh semua orang, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup kita bersama.

“Berdasarkan penelitian yang kami dapat, lebih dari 95% aktivitas kita selama 50 tahun terakhir telah meningkatkan suhu planet kita dan jika tidak melakukan aksi korektif suhu, maka suhu akan mengalami kenaikan 11 derajat lagi. Hal inilah yang mendasari pembuatan aplikasi mobile dan web EcoSense," jelas Kenrick.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat memiliki hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain dan memiliki dampak yang signifikan terhadap keadaan lingkungan saat ini. Melihat hal tersebut, EcoSense hadir untuk menjembatani para penggiat lingkungan dengan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan lingkungan dan membantu mereka dalam menerapkan gaya hidup hijau,” ungkap Kenrick.

EcoSense menawarkan dua fitur utama yaitu kampanye lingkungan tergamifikasi dan deteksi penyakit tanaman.

‘Kampanye Lingkungan Tergamifikasi’ merupakan fitur di mana pengguna bisa mengikuti kampanye lingkungan, lalu mendapatkan experience points berupa EcoPoints setelah menyelesaikan kampanye.

Nantinya, pengguna dapat mengumpulkan EcoPoints dan menukarkannya dengan berbagai rewards menarik, seperti voucher belanja, saldo elektronik, atau bisa juga berdonasi. Sedangkan ‘Deteksi Penyakit Tanaman’ merupakan fitur untuk mendapatkan informasi mengenai jenis penyakit, cara mengatasi dan mencegah penyakit itu hanya dengan mengambil foto daun tanaman.

Pengguna juga dapat menyimpan hasil deteksi tersebut dan melihat kembali nanti.

Hasil itu berupa nama penyakit, confidence percentage, gejala, cara penanganan, dan cara pencegahan.

Nantinya, EcoSense akan mentransformasi prototype mereka menjadi produk yang siap untuk diperkenalkan pada user atau masyarakat dalam bimbingan Lab Inkubasi dan Kewirausahaan di 15 Kampus Mitra Bangkit.

Keberhasilan Kenrick dan Kenji dalam mengembangkan EcoSense tentunya tidak terlepas dari pendidikan yang mereka tempuh selama di UPH.

Menurut Kenji, mahasiswa UPH sudah dibiasakan untuk mengasah skill dan kreativitas untuk mengembangkan ide-ide bisnis yang inovatif.

“Perkuliahan di UPH membekali kami pengetahuan dengan pendidikan yang transformatif untuk menjadi seorang pemimpin masa depan. Kami dapat mengasah kemampuan kreativitas dengan mengikuti berbagai kegiatan selama perkuliahan di UPH, seperti menjadi bagian dari student leaders atau organisasi kemahasiswaan, serta berpartisipasi secara aktif di kegiatan dalam kampus," pungkas Kenji.

"Dengan begitu, kami dapat mengasah kreativitas untuk membawa inovasi ke dalam dunia. Di kelas perkuliahan, beberapa mata kuliah seperti Technopreneurship, E-business & E-commerce, dan Leadership & Entrepreneurship membantu kami dalam merancang ide bisnis yang kreatif dan berdaya saing, dengan kaidah-kaidah yang sudah menjadi standar. Ini yang membantu kami untuk berani mengambil tantangan dalam mengembangkan inovasi baru,” jelas Kenji Marwies.

Merespons hal ini, Okky Putra Barus, S. Kom., M.M., M.T.I. selaku dosen pembimbing dan Ketua Program Studi (Kaprodi) Sistem Informasi UPH Kampus Medan mengatakan;

“Kami mendukung penuh dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Selain itu, prodi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengangkat dan menyempurnakan karya atau project yang mereka hasilkan menjadi sebuah karya Tugas Akhir,” tuturnya.

Hasil karya inovatif dari Kenrick dan Kenji dalam mengembangkan EcoSense merupakan komitmen nyata UPH dalam memberikan pendidikan berkualitas unggul dan mendorong mahasiswanya untuk berkontribusi positif bagi perkembangan teknologi serta mampu menjadi ‘The Great Achiever’ yang siap memimpin bangsa.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini