Share

Mengenal Survivorship Bias, Keyakinan yang Mengabaikan Kegagalan

Hania Latifa, Presma · Jum'at 16 September 2022 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 16 65 2668797 mengenal-survivorship-bias-keyakinan-yang-mengabaikan-kegagalan-RD58dMVvCP.jpg Ilustrasi/Everyday Concept

JAKARTA - Pernahkah kamu mendengar kalimat di bawah ini?

"Merokok tidak bahaya. Ayah saya umur 70 tahun masih sehat walaupun merokok."

Atau kalimat yang satu ini?

"Kamu seharusnya bisa menabung dan mempunyai gaji di atas 10 juta saat umur 20 tahun. Saya saja bisa. Masa, kamu tidak bisa?"

Ternyata kalimat-kalimat tadi merupakan salah satu contoh dari survivorship bias, lho!

Apa Itu Survivorship Bias?

Dilansir dari The Decision Lab, survivorship bias, dapat juga dikatakan sebagai bias kebertahanan, adalah fenomena ketika seseorang cenderung hanya melihat keberhasilan dan mengabaikan kegagalan sehingga mengarahkan pada kesimpulan yang keliru.

Hal ini, menurut Eva M. Krockow, psikolog dari Inggris, dapat membuat seseorang sulit melihat tingkat keberhasilan secara keseluruhan.

Fenomena survivorship bias ini jika terus dipertahankan bisa berbahaya, lho!

"Kita ambil contoh soal yang merokok. Orang-orang yang memiliki tendensi survivorship bias pasti bakal mengatakan bahwa banyak orangtua yang masih sehat walaupun merokok. Hal ini, kalau dibiarkan lama-lama, akan mempengaruhi banyak orang lainnya sehingga bisa menciptakan kebiasaan yang tidak sehat. Merokok terus-terusan dan tidak memperhatikan kesehatan bakal dianggap lazim bagi banyak orang," jelas Muhammad Alvin, lulusan Sastra dan Kebudayaan Inggris.

Cara Menghindari Survivorship Bias

Telusuri Faktor yang Berkaitan dan Latar Belakang yang Ada

Saat menghadapi suatu peristiwa yang terjadi, Kamu jangan langsung mengambil kesimpulan hanya dengan hal yang terlihat di permukaan saja.

Kamu juga harus menelusuri berbagai macam faktor yang berkaitan dan hal-hal yang melatarbelakangi peristiwa tersebut secara aktual dan juga faktual, ya.

Lihat dari Berbagai Sudut Pandang dengan Rasional dan Jangan Tinggalkan Empati

Saat ingin menyikapi suatu peristiwa dengan tidak terjebak survivorship bias, penting bagi kita untuk menganalisis sesuatu dari berbagai macam sudut pandang dengan sikap yang rasional.

Namun, sikap rasional saja tidak cukup. Hal tersebut juga perlu diiringi dengan empati sehingga kita bisa memahami bahwa suatu peristiwa dapat terjadi karena berbagai macam faktor yang ada.


Pertimbangkan Data secara Menyeluruh

Selanjutnya, pertimbangkan data yang ada dengan tepat dan secara menyeluruh supaya kita dapat menemukan keputusan yang utuh.

Eits! Tetapi, Sobat Kala jangan lupa juga untuk menyertakan empati dan pemikiran yang rasional saat mengambil keputusan, ya!

Hania Latifa, mahasiswi aktivis Persama Ketik Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini