Share

Heboh Sampah Mikroplastik Bahaya bagi Manusia, Ini Penjelasan Pakar ITB

Zahra Larasati , Okezone · Senin 20 Juni 2022 12:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 20 65 2614633 heboh-sampah-mikroplastik-bahaya-bagi-manusia-ini-penjelasan-pakar-itb-JeCTsB7vH5.jpg Ilustrasi okezone

JAKARTA- Beberapa waktu lalu heboh pemberitaan tentang temuan mikroplastik pada kotoran manusia. Hal ini dikhawatirkan akan berpengaruh pada kesehatan. Namun, saat ini belum ada satu negara pun yang bisa membuktikan sejauh mana mikroplastik membahayakan kesehatan manusia.

(Baca juga: Pertama Kalinya, Mikroplastik Ditemukan di Salju Antartika yang Baru Turun)

Hal itu yang membuat belum adanya satu regulasi pun yang menetapkan berapa batas aman mikroplastik ini di dalam tubuh sehingga bisa membahayakan kesehatan.

Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), Zainal Abidin, menegaskan bahwa dampak cemaran mikroplastik terhadap kesehatan manusia saat ini belum dapat dipastikan karena penemuan relatif baru dan butuh penelitian lebih lanjut.

“Sekitar 48 persen penyebaran mikroplastik ini dari pembakaran di ruang terbuka, 28 persen lewat saluran air, 20 persen dari tempat pembuangan akhir,” ujarnya dalam webinar “Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya pada Lingkungan & Kesehatan”.

Oleh karena itu, kata dia, bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia harus kembali diteliti lebih mendalam lagi. "Dampak pencemaran mikroplastik untuk kesehatan manusia ini belum dapat dipastikan karena penemuannya masih relatif baru dan butuh penelitian yang lebih lanjut. Standar dunia belum ada," ungkap pengamat polimer tersebut.

Hal senada juga diutarakan, Peneliti Pusat Riset Kimia Maju Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andreas. Menurutnya, sampai sekarang belum ada regulasi yang mengatur standar terkait dengan jumlah mikroplastik dalam satu produk pangan olahan.

“Karena, kalau dihitung sebagai jumlah itu tidak fair. Hal itu disebabkan dalam ada produk itu yang mungkin ada serpihan mikroplastiknya kecil-kecil dan jumlahnya 10, sedangkan produk lain serpihannya cuma satu tapi panjang. Itu kan tidak fair kalau dihitung dari jumlah mikro plastiknya. Jadi, tidak fair juga kalau jumlah itu dijadikan patokan,”ulasnya.

Karenanya, kata Andreas, negara-negara di dunia juga masih belum ada yang menentukan regulasi terkait dengan jumlah mikroplastik dalam satu produk pangan olahan. Menurutnya, mikroplastik yang ukurannya terlalu kecil tidak bisa dilihat secara visual dengan mata, tapi harus menggunakan alat bantu misalnya mikroskop.

“Tetapi, itu kan baru terduga apakah memang betul itu material plastik. Nah, untuk bisa memastikan itu material plastik, harus dilakukan pengujian secara instrumentasi. “Jadi, semakin banyak informasi yang dirangkum untuk memastikan sesuatu itu adalah mikroplastik, akan semakin meningkatkan validitas dalam kita memastikannya,” katanya.

Dia juga mengakui BRIN hingga kini belum pernah melakukan penelitian dampak mikroplastik ini terhadap kesehatan manusia.

Wakil Dekan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Soegijapranata, Inneke Hantoro, menambahkan, pemerintah di banyak negara belum bisa memberikan kepastian berapa standar mikroplastik yang boleh ada di dalam tubuh manusia. Menurutnya, hal itu disebabkan banyaknya tingkat kesulitan untuk melakukan analisis mikroplastik ini.

“Saat ini, penelitian mikroplastik ini baru ada pada tahap 1 dan 2, itupun masih banyak tantangannya. Jadi belum sampai kepada uji terhadap manusianya,” ujarnya.

Karenanya, terkait sudah berlimpahnya artikel yang bicara mengenai deteksi keberadaan mikro plastik di banyak produk, dia mengatakan semua itu tetap harus dikaji lebih jauh.

“Jadi, akan masih sangat sulit untuk melakukan penetapan standar aman dari mikroplastik itu. Seluruh dunia juga masih mengalami hal yang sama,” tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini