JAKARTA - Nama dr. Sardjito cukup dikenal publik lantaran menjadi nama sebuah rumah sakit di Yogyakarta.
Di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito ini bahkan terdapat patung sang tokoh, mengingat namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit, andil dr. Sardjito untuk Tanah Air tidak bisa diremehkan.
Dr. Sardjito adalah seorang sosok yang berperan di bidang kesehatan dan pendidikan pada masa perjuangan kemerdekaan.
Pada 8 November 2019 yang lalu, dr. Sardjito mendapatkan gelar pahlawan nasional.
Penganugerahaan gelar tersebut dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara.
Sardjito lahir di Purwodadi, Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1889.
Ia merupakan putra dari seorang guru. Ayahnya, Mohamad Sajid, guru di Pemalang dan menjadi guru HIS di Bondowoso.
Sardjito menyelesaikan pendidikan formalnya di Sekolah Belanda Lumajang.
Kemudian ia melanjutkan pendidikan di STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen) dan lulus tahun 1915.
Setelah lulus dari STOVIA, ia diangkat menjadi dokter pada dinas kesehatan kota (Burgerlijke Geneeskundige Dienst) di Batavia.
Kurang lebih satu tahun bekerja di STOVIA, dr. Sardjito kemudian pindah ke Institut Pasteur di Bandung sampai tahun 1920.
Ia menjadi seorang peneliti di tim penelitian khusus tentang influenza. Ia meriset influenza selama satu tahun, dari tahun 1918 sampai 1919.
Pada masa itu, influenza merupakan suatu hal yang menakutkan bagi masyarakat.
Pada 1920, dr. Sardjito melanjutkan studi ke Belanda, yakni di Universitas Amsterdam.
Dengan pengalaman riset yang dimilikinya membuat Sardjito mampu menyelesaikan pendidikan dalam waktu satu semester.
Semangatnya akan belajar begitu tinggi hingga ia mengajukan proposal studi untuk tingkat doktoral.
Pada jenjang doktoralnya, ia kembali mengembangkan studi yang berkaitan dengan penyakit tropis.
Dr. Sardjito lulus ujian tingkat doktor pada tahun 1923.
Selain menjalankan profesi dokter dan peneliti, dr. Sardjito juga aktif dalam organisasi dan pergerakan. Di antara kiprahnya adalah menjadi Ketua Budi Utomo cabang Jakarta pada 1925.
Dr. Sardjito dikenal sebagai sosok yang cinta buku. Salah satu buktinya adalah aksi dr. Sardjito saat menyelamat buku-buku yang ada di Institut Pasteur.
Kala itu, di masa kemerdekaan tahun 1945, pihak Belanda yang membonceng Sekutu masih melakukan penyerangan ke sejumlah wilayah di Indonesia.
Agar aset pendidikan dapat terselamatkan dari gempuran yang dilancarkan dalam pertempuran, dr. Sardjito menyelundupkan buku-buku dari Institut Pasteur di Bandung ke Klaten dan Solo.
Jasa dr. Sardjito lainnya bagi perjuangan bangsa adalah pembuatan makanan ransum berupa biskuit untuk tentara yang berjuang di medan perang. Dr. Sardjito membuat biskuit, yang dinamakan biskuit Sardjito, itu dengan formula khusus sehingga para pejuang yang mengonsumsinya dapat tercukupi energinya serta bisa menahan lapar.
Dr. Sardjito diangkat menjadi rektor pertama Universitas Gadjah Mada pada tahun 1949.
Pendirian Universitas Gadjah Mada memang tidak bisa dilepaskan dari nama dr. Sardjito yang mencurahkan pemikiran serta peran sertanya dalam membangun serta mengembangkan universitas tersebut.
Ia juga pernah menjabat sebagai rektor di Universitas Islam Indonesia tahun 1964 hingga 1970.
Pada tahun 1970, tepatnya tanggal 5 Mei, dr. Sardjito wafat di usianya yang ke 80 tahun.
Sebelum ia meninggal, pada 1969, usulannya kepada pemerintah agar didirikan sebuah rumah sakit untuk keperluan pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta baru dapat direalisasikan. Setahun kemudian, rumah sakit tersebut dibangun.
Namun, di tahun itu pula ia meninggal. Untuk menghormati jasanya, rumah sakit yang didirikan pada 13 Juni 1974 itu dinamakan RSUP dr. Sardjito.
Semasa hidupnya, Prof Dr dr M Sardjito, MD, MPH dikenal sebagai tokoh yang pandai, rajin, dan tekun. Ia memiliki semangat yang tinggi di dalam dunia kesehatan dan pendidikan.
Kontribusinya pada negeri pun memberikan banyak manfaat yang dirasakan hingga kini.
(Natalia Bulan)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik