Share

Kronologi Penyusunan Dasar Negara Indonesia yang Kini Dikenal Pancasila

Natalia Bulan, Okezone · Selasa 31 Mei 2022 07:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 30 624 2602604 kronologi-penyusunan-dasar-negara-indonesia-yang-kini-dikenal-pancasila-biSwLeOJqF.jpg Kronologi Penyusunan Dasar Negara Indonesia/Okezone

JAKARTA - Berikut ini adalah kronologi penyusunan Dasar Negara Indnoesia yang kini kita kenal sebagai Pancasila.

Lahirnya dasar negara Indonesia, Pancasila memiliki jalan perumusan yang cukup panjang dan melibatkan banyak tokoh penting di dalamnya.

Semua berawal dari pemberian janji kemerdekaan oleh Perdana Menteri Jepang saat itu, Kuniaki Kois untuk Indonesia pada 7 September 1944.

Dikutip dari laman Kelas Pintar, saat itu Jepang mendirikan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Maret 1945 yang memiliki tujuan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan tata pemerintahan Indonesia Merdeka.

Kemudian BPUPKI diketuai oleh Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) Radjiman Wedyodiningrat.

Dalam pidato pembukaannya, Dr. Radjiman mengajukan pertanyaan kepada anggota-anggota sidang yang terdiri dar 67 orang Indonesia dan 7 orang Jepang itu mengenai dasar-dasar Negara Indonesia yang akan mereka bentuk saat itu.

Sejumlah usulan pun disampaikan oleh para anggota.

Satu di antaranya adalah Muhammad Yamin yang dalam pidatonya pada 29 Mei 1945 ia merumuskan lima dasar yaitu Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat.

Menurutnya, lima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia.

Pada 1 Juni 1945, Soekarno menyebut dalam pidato spontannya yang kemudian dikenal dengan judul 'Lahirnya Pancasila'.

Dasar-dasar yang ia susun sebagai berikut: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri-Kemanusiaan, Mufatakat atau Demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraa Sosial, Ketuhanan.

Nama Pancasila diucapkan oleh Soeakrno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni saat itu.

Usulan Soekarno kemudian diterima baik oleh peserta sidang dan setelah itu, tanggal 1 Juni 1945 pun diketahui sebagai Hari Lahirnya Pancasila.

Sebelum sidang pertama berakhir, sebuah Panitia Kecil dibentuk untuk tak hanya merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar Negara, mengacu pada pidato yang diucapkan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, tetapi juga menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Panitia Kecil itu diisi oleh 9 orang yang dikenal sebagai Panitia Sembilan untuk menjalankan tugas tersebut. Rencana mereka kemudian disetujui pada tanggal 22 Juni 1945 yang kemudian diberi nama Piagam Jakarta.

Setelah Rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi beberapa dokumen penetapannya ialah:

- Rumusan Pertama: Piagam Jakarta (Jakarta Charter) – tanggal 22 Juni 1945

- Rumusan Kedua: Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 – tanggal 18 Agustus 1945

- Rumusan Ketiga: Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat – tanggal 27 Desember 1949

- Rumusan Keempat: Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara – tanggal 15 Agustus 1950

- Rumusan Kelima: Rumusan Pertama menjiwai Rumusan Kedua dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi (merujuk Dekret Presiden 5 Juli 1959)

Namun, setelah upacara Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ada beberapa utusan yang datang dari Indonesia Bagian Timur, untuk menyampaikan keberatannya terkait bunyi sila pertama Pancasila.

Beberapa utusan tersebut di antaranya adalah Sam Ratulangi, wakil dari Sulawesi, Tadjoedin Noor dan Ir. Pangeran Noor, wakil dari Kalimantan, I Ketut Pudja wakil dari Nusa Tenggara, dan Latu Haryhary, wakil dari Maluku.

Menanggapi protes kecil tersebut, di sidang PPKI yang pertama pada 18 Agustus 1945, Mohammad Hatta pun mengusulkan kalimat 'Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' diubah menjadi 'Ketuhanan Yang Maha Esa'.

Pengubahan itu sendiri telah dikonsultasikan bersama empat tokoh Islam yaitu Kasman Singodimejo, Wahid Hasim, Ki Bagus Hadikusumo, dan Teuku M. Hasan.

Keempat tokoh ini menyetujui perubahan kalimat tersebut. Alhasil, ada penetapan rancangan pembukaan sekaligus batang tubuh UUD 1945 pada Sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila pun ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia.

Nama Pancasila sendiri diambil dari bahasa Sanskerta, yang terdiri dari dua kata, panca yang berarti lima, dan sila yang berarti prinsip atau asas.

Dengan kata lain, Pancasila adalah rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi rakyat Indonesia.

Ada lima butiryraa penyusun Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradaab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwkailan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semua tercantum pada paragraf keempat Preambule (Pembukaan) Undang-Undang Dasar 1946.

Setelah mengalami banyak perubahan dalam kandungan dan urutan lima sila selama tahap perumusannya.

Pancasila akhirnya menjadi Pancasila seperti yang dikenal sekarang. 1 Juni kini dikenal sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini