Share

KSP Minta Elemen Kampus dan LSM Bergerak untuk Hadapi Risiko Bencana

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Jum'at 27 Mei 2022 13:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 27 65 2601176 ksp-minta-elemen-kampus-dan-lsm-bergerak-untuk-hadapi-risiko-bencana-5PzQ7Al1Rr.jpg Ilustrasi/Freepik

JAKARTA - Deputi II Kepala Staf Kepresidenan RI Abetnego Tarigan menekankan perlunya elemen kampus dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kembali mengawal dan menyuarakan isu-isu penanganan bencana di Indonesia.

Terlebih, menurutnya, Indonesia adalah negara yang rawan bencana.

Abetnego menyebutkan bahwa per tanggal 23 Mei 2022, telah terjadi bencana sebanyak 1.613 dan sepanjang tahun 2015 hingga 2021, tercatat 121 letusan gunung berapi di Indonesia.

"Risiko bencana kita (Indonesia) sangat besar. Tentunya pemerintah tidak bisa sendirian dalam mengurangi risiko tersebut. Peran masyarakat terutama elemen kampus dan LSM sangat dibutuhkan," kata Abetnego dalam keterangannya, Jumat (27/5/2022).

Abetnego menjelaskan, pengalaman terbaik dari seluruh negara menunjukan, bahwa keberhasilan penanganan bencana terletak pada peran masyarakat dan gotong royong seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, masyarakat bukan sebagai objek, melainkan peserta aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Selain itu, keterlibatan elemen masyarakat dalam penanggulangan risiko bencana merupakan salah satu arahan Presiden Joko Widodo dalam memitigasi bencana. Hal itupun, imbuh dia, termuat dalam substansi konsep Resiliensi Berkelanjutan, yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada GPDRR.

"Bapak Presiden menilai bahwa setiap negara di dunia harus memperkuat budaya dan kelembagaan siaga bencana yang antisipatif, responsif, dan adaptif menghadapi bencana. Tak terkecuali untuk Indonesian. Ini butuh sinergi antara kelembagaan pemerintahan, serta kelembagaan sosial dan masyarakat," kata Abetnego.

Seperti diketahui Presiden Joko Widodo menyampaikan konsep Resiliansi Berkelanjutan pada Forum Kebijakan Global Pengurangan Risiko Bencana (Global Platform for Disaster Risk Reduction/GPDRR) ke-7,di Bali, Rabu (25/5).

Resiliensi Berkelanjutan merupakan solusi untuk menjawab tantangan risiko sistemik menghadapi berbagai bencana, termasuk pandemi dan mendukung implementasi pembangunan berkelanjutan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini