Share

Tokoh-Tokoh yang Punya 2 Gelar Sarjana, dari Mahfud MD hingga Butet Manurung

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 10 April 2022 12:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 07 65 2574805 tokoh-tokoh-yang-punya-2-gelar-sarjana-dari-mahfud-md-hingga-butet-manurung-HrgPmWG0gC.jpg Mahfud MD. (Foto: Ant)

Welin Kusuma

Welin Kusuma lahir pada 8 Maret 1981 dan merupakan seorang analisis keuangan yang memiliki 32 gelar. Gelar-gelar tersebut diantaranya memiliki 11 gelar sarjana, 3 gelar magister dan 18 pendidikan profesi. Semuanya itu dilakukan dalam waktu 15 tahun.

Welin menempuh pendidikan sarjananya pertama di Teknik Industri Universitas Surabaya. Ia menjadikan kuliah sebagai sebuah hobi. Ia kemudian berkuliah lagi di STIE Urip Sumoharjo, Universitas Terbuka, Universitas Airlangga, Sekolah Tinggi Teknik Surabaya dan Universitas Kristen Petra.

Pada jenjang S1, ia berhasil lulus di bidang teknik informatika, bahasa Inggris, statistika, akuntansi, manajemen, hukum dan administrasi bisnis.

Achmad Tarmizi

Achmad Tarmizi, Sekretaris Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan, juga seorang tokoh yang memiliki 2 gelar sarjana. Ia menempuh pendidikan S1 di fakultas ekonomi, hukum, dan teknik.

Tak hanya itu, sederet gelar akademis dan non-akademis juga diraihnya. Secara keseluruhan, Achmad Tarmizi memiliki 83 gelar, yakni 11 gelar akademik mulai dari S1 sampai S3, dan 72 gelar non-akademik. Ia lantas dinobatkan Museum Rekor Indonesia sebagai pemilik gelar terbanyak di Indonesia.

Walaupun memiliki banyak gelar, ia mengatakan hanya menuliskan gelar akademik saja untuk mempermudah pendataan resmi terkait jabatannya.

Franz Astani

Franz Astani merupakan notaris dan pejabat pembuat akta tanah. Ia lahir pada 2 Oktober 1953 di Semarang dan pernah mencalonkan diri sebagai calon Rektor UI pada 2012, namun gagal. Ia juga pernah menjadi calon Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila.

Franz Astani memiliki gelar sarjana dari fakultas hukum dan ekonomi, ditambah gelar S2, S3. Jika dituliskan, namanya adalah Dr Ir Franz Astani, SH, M.Kn, SE, MBA, MM, M.Si, Dr (K-Huk),CMP(NUS-IMA). Museum Rekor Indonesia pun memberinya penghargaan dengan predikat Continuous learning process with time duration 44 years.

*Melansir dari berbagai sumber,

Maria Alexandra Fedho/Litbang MPI

 

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini