Share

Tak Pernah Mengeyam Pendidikan Formal, Remaja Putri Tunanetra dan Yatim Berhasil Jadi Penghafal Al Quran

Bambang Sugiarto, iNews · Selasa 05 April 2022 18:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 05 624 2573513 tak-pernah-mengeyam-pendidikan-formal-remaja-putri-tunanetra-dan-yatim-berhasil-jadi-penghafal-al-quran-AtvuqWMKKL.jpg Ilustrasi membaca Al Quran (Foto: Islamcity)

JEMBER - Seorang remaja putri tunanetra di Jember tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah. Dia hanya mengaji di sebuah musala di kampungnya dan hanya dikenalkan bacaan Al Quran.

Hingga usia 23 tahun, remaja itupun mampu menghafal ayat-ayat Al Quran dengan baik dan suara indah.

Tidak mudah menuju rumah Mainumah, remaja tunanetra asal Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Jember.

Orang yang menuju ke sana harus turun dan naik perbukitan terjal di kaki pegunungan Hyang Jember. Dari lorong besar, kita harus turun dan menapaki jalanan setapak hingga hampir satu kilometer.

Namun sesampai di rumah Maimunah, lelah pun terbayarkan. Maimunah yang sudah yatim dan hanya tinggal berdua dengan sang ibunya itu langsung mengeluarkan senyum dan sapaan akrab. Begitu pun dengan ibundanya.

Baca juga: Anak Buahnya Diduga Aniaya Tunanetra, Kapolres Kampar Perintahkan Propam Investigasi

Suasana makin terasa menentramkan saat Maimunah kemudian membaca ayat-ayat Al Quran dari bibir tipisnya itu di ruang tamu rumahnya.

Baca juga: Kisah CEO Tunanetra: Dulu Diremehkan, Sekarang Perusahaannya Bernilai Nyaris Rp1 Triliun

Menurut Maimunah, dia belajar Al Quran hanya dengan mendengar dari guru mengajinya sejak 2006 silam. Dia belajar di sebuah musala di desanya tanpa menggunakan panduan buku brailer atau alat pendengaran bahkan telepin genggam atau handphone.

Dari mendegar itulah, Maimunah memahami ayat demi ayat hingga kemudian dapat menghafal Al Quran.

Maimunah bercita cita ingin menjadi hafidzah seperti yang ada di sebuah tayangan televisi swasta dan membanggakan keluarga.

Namun ketiadaan ekonomi membuat dirinya hanya berangan angan belaka meski dirinya memiliki kemampuan.

Adapun sang ibu, Marliyem mengatakan anaknya memang sejak lahir sudah tunanetra, namun memiliki semangat tinggi untuk dapat menghafal Al Quran. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah namun hanya belajar di musala dengan seorang guru ngaji karena kesusahan ekonomi.

Marliyem hanya bekerja sebagai buruh serabutan dan harus memenuhi kebutuhan tiga anaknya. Maimunah adalah adalah anak bungsunya.

Sementara itu, Eritha, pegiat sosial keagamaan, mengapresiasi semangat Maimunah dan berharap pihak terkait seperti kemenag atau Pemkab Jember melirik keberadaan Maimunah dan membantu memberikan buku brailer Al Quran atau diberikan pembelajaran khusus bagi tunanetra. Bahkan jika perlu diikut sertakan dalam ajang lomba hafidzah baik regional maupun nasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini