Apotek Komunitas dan Toko Obat dalam Usaha Mencegah Resistensi Antibiotik
Hasil survei menunjukkan banyak penderita Covid-19 mendatangi apotek komunitas dan toko obat untuk memperoleh antibiotik. Hal ini dapat meningkatkan ancaman resistensi antimikroba karena antibiotik bukanlah obat yang efektif untuk virus.
Kurang lebih sepertiga responden menyebutkan bahwa mereka telah memberikan antibiotik kepada pasien yang diduga menderita Covid-19. TTK lebih sering melaporkan penjualan obat resep dokter termasuk antibiotik dibandingkan apoteker. Mereka memiliki wewenang dan terlatih dalam memberikan resep obat untuk melaporkan penjualan obat dengan resep dokter termasuk antibiotik.
Saat ini terdapat sekitar 135.000 apotek komunitas dan toko obat berizin di Indonesia. Meskipun regulasi di Indonesia melarang penjualan antibiotik secara bebas, tetapi pemberian antibiotik tanpa resep merupakan hal yang umum terjadi. Penelitian menunjukkan adanya peningkatan penggunaan antibiotik yang tidak tepat oleh masyarakat selama pandemi Covid-19.
Prof. Virginia Wiseman dari Kirby Institute di University of New South Wales (UNSW) Sydney dan London School of Hygiene and Tropical Medicine yang juga memimpin survei, mengatakan bahwa peningkatan resistensi antimikroba yang berkelanjutan menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat.
“Oleh karena itu, perlu adanya respons yang melibatkan seluruh sistem kesehatan. Apotek komunitas dan toko obat di beberapa negara, terutama Indonesia merupakan bagian penting dari sistem kesehatan sehingga perlu diintegrasikan dengan baik ke dalam penanganan pandemi secara nasional. Saat ini adalah waktu yang ideal bagi negara seperti Indonesia untuk mulai melakukan integrasi dari hal tersebut,” tutur Prof. Virginia.
Survei Covid-19 ini merupakan bagian dari PINTAR yang bertujuan untuk meningkatkan pemberian antibiotik secara bijak di masyarakat dan mencegah perluasan resistensi antimikroba.
Penelitian PINTAR dipimpin oleh Kirby Institute dari University of New South Wales (UNSW) Australia yang bekerja sama dengan UNS, Universitas Gadjah Mada (UGM), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, London School of Hygiene & Tropical Medicine, University College London di Inggris, dan George Institute for Global Health di UNSW Sydney.
Penelitian hasil kerja sama Australia, Indonesia, dan Inggris menganalisis pengetahuan dan praktik dari 4.716 apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) di 34 provinsi di Indonesia dengan sepertiga responden tinggal di Pulau Jawa. Hasil survei daring yang dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2020 tersebut dipublikasikan di jurnal The Lancet Regional Health - Western Pacific.
(Fahmi Firdaus )
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik