Share

Kisah Syifa Urachmah, Guru Tuna Netra Abdikan Hidup Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus

Taufan Mustafa, iNews · Rabu 02 Maret 2022 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 02 624 2555169 kisah-syifa-urachmah-guru-tuna-netra-abdikan-hidup-mengajar-anak-berkebutuhan-khusus-lxz0O9VIIA.jpg Syifa, Guru Tuna Netra sedang mengajarkan siswanya bermain alat musik dan bernyanyi (Foto : iNews)

BANDA ACEH - Mengajar anak–anak difabel tentu harus mempunyai ketulusan dan kepedulian. Seperti yang dilakukan Syifa Urrachmah, yang juga mengalami keterbatasan sejak kecil, dengan mengajar anak-anak les privat khusus difabel.

Syifa merupakan Sarjana Jurusan Bimbingan Konseling yang seluruh waktunya dihabiskan untuk mengajarkan anak berkebutuhan khusus. Kini, Syifa sudah memperoleh penghasilan dengan mengajar.

Syifa Urrachmah merupakan guru difabel yang mengabdikan diri untuk mengajarkan anak berkebutuhan khusus, selain memberikan les privat, Syifa juga mengajar setiap hari di sekolah luar biasa. Meskipun tanpa mengharapkan digaji, Syifa tetap memberikan ilmunya secara maksimal pada para siswa.

Saat kecil, Syifa sempat menempuh pendidikan di SLB, namun sejak SMP hingga kuliah, ia menempuh pendidikan jalur umum. Meskipun kadang mendapat bulliying, ia hadapi dengan ikhlas.

Ia merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, dua kakaknya terlahir normal, namun adiknya juga merupakan anak berkebutuhan khusus yang saat ini sedang menempuh kuliah di Universitas Syiah Kuala.

Sejak kecil, Syifa juga sering mendapat juara pada berbagai even, mulai dari Tilawatil Quran sampai juara olimpiade nasional, sehingga Syifa banyak mengoleksi tropi juara di lemari bukunya.

"Saat ini usia saya 26 tahun, saya tinggal bersama kedua orang tua dan adik saya bernama Muhammad Saidinas, beralamat di Desa Jeulingke, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh," ujar Syifa.

Syifa sedang mengajar prifat anak didik di rumahnya (Foto : iNews)

Sehari–hari, dirinya mengajar les khusus anak–anak difabel.

"Saya paham betul bagaimana perasaan teman-teman difabel dalam memperoleh pendidikan, karena saya juga mengalami keterbatasan sejak kecil tidak bisa melihat. Oleh sebab itu saya membaca dengan cara braile," tuturnya.

"Saya juga tidak bisa melihat bagaimana raut muka mama papa saya, dan kakak adik saya saat ini," imbuhnya.

Jika teman-teman difabel merasa kurang paham dalam ilmu yang diajarinya di sekolah, SLB Negeri Banda Aceh tempatnya mengajar, kata Syifa, maka orangtua mereka akan menghubunginya untuk mengajari putra putrinya secara private.

"Tentu saja hambatan mengajar adik–adik difabel ada saja, sehingga saya terus belajar dari pengalaman di lapangan dan akhirnya hingga saat ini sudah mampu mengajar hampir empat tahun, untuk mengajar private anak-anak berkebutuhan khusus," kata Syifa.

SLB Negeri Banda Aceh (Foto : iNews)

Soal penghasilan, Syifa mengataka dirinya memperoleh upah mengajar sekira Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Meskipun tidak ada patokan upah untuk setiap siswa les, setiap anak didik memberikan upah kepadanya antara Rp200 hingga Rp300 ribu.

"Saya curahkan jiwa raga saya untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Saya berniat untuk mencerdaskan dan memberikan bekal yang terbaik untuk anak–anak ini," ujarnya.

Menurutnya, anak-anak difabel berhak menyalurkan potensi dan menggapai masa depannya. Ssehingga, dapat berguna bagi bangsa dan negara meskipun di lingkup yang berbeda.

"Saya memang berbeda dengan anak normal lainnya, namun saya tipikal orang yang bukan suka bergantung dengan orang lain dengan memanfaatkan keterbatasan. Saya harus bisa mandiri, orangtua saya juga tidak menspesialkan saya karena saya yang berbeda. Mereka juga memberikan tanggungjawab terhadap saya," kata Syifa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini