Share

Tokoh-Tokoh Nasional yang Ternyata Seorang Guru, dari Jenderal Soedirman hingga KH Ahmad Dahlan

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 26 Februari 2022 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 23 624 2551797 tokoh-tokoh-nasional-yang-ternyata-seorang-guru-dari-jenderal-soedirman-hingga-kh-ahmad-dahlan-OF8I8lZeCJ.jpg Jenderal Soedirman yang ternyata seorang guru, saat dilantik menjadi Panglima Besar TNI oleh Presiden Soekarno. (Foto: Perpusnas)

JAKARTA - Tokoh-tokoh nasional yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya merupakans seorang guru. Berikut sederet tokoh nasional yang ternyata adalah seorang guru.

• KH Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan yang memiliki nama asli Muhammad Darwisy lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868. Ia merupakan keturunan kedua belas dari Sunan Gresik, salah satu Wali Songo.

Dididik dan dibesarkan di lingkungan pesantren membuat KH Ahmad Dahlan memiliki banyak pengetahuan agama dan bahasa Arab. Saat usianya 15 tahun, ia menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Mekah selama lima tahun. Pada masa inilah ia berinteraksi dengan pemikiran pembaruan dalam dunia Islam seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah.

Menginjak umur 20 tahun, ia pulang ke kampung halaman dan diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan salah satu tokoh yang mendirikan organisasi Muhammadiyah. Ia menjadi anggota Boedi Oetomo pada 1906 dan memberikan pelajaran agama kepada priyayi. KH Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah dengan sistem pendidikan modern dengan dukungan dari kalangan priyayi.

• Douwess Dekker

Ernest Douwes Dekker merupakan tokoh pendiri Indische Partij, partai politik yang pertama di Indonesia. Ia lahir pada 8 Oktober 1879. Douwes Dekker menempuh pendidikan dasar di Pasuruan dan melanjutkan lagi di Hogere Burger School (HBS) Surabaya.

Setelah lulus ia pernah bekerja di perkebunan kopi “Soember Doeren” di Malang. Di tempat kerjanya itu, ia melihat banyak orang Belanda bertindak semena-mena kepada kaum pribumi. Tindakannya dalam membela mereka menjadi alasan dipecatnya Douwes Dekker dari pekerjaan tersebut.

Ia lalu beralih profesi menjadi seorang guru kimia, walaupun pekerjaan itu tidak lama ia tekuni. Ia mendirikan perguruan Institut Ksatrian yang mengajarkan nilai-nilai kebangsaan. Setelah Indonesia merdeka, ia diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Negara dan Penasihat Delegasi RI dalam perundingan dengan Belanda.

• Oemar Said Tjokroaminoto

Lahir di Ponorogo pada 16 Agustus 1882, Oemar Said Tjokroaminoto merupakan lulusan Opleiding Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah pegawai negeri adat di Magelang. Ia pernah bekerja menjadi pegawai negeri di Ngawi.

Pada 1906, Tjokroaminoto pindah ke Surabaya dan di situlah ia bertemu Samanhudi, pendiri dan pemimpin Sarekat Dagang Islam. Atas sarannya, Samanhudi mengubah nama organinsasinya menjadi Sarekat Islam (SI). Pada 1914, Tjokroaminoto mulai memimpin SI hingga akhir hayatnya.

Tjokroaminoto merupakan seorang guru yang melahirkan tokoh-tokoh pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Tan Malaka, Kartosuwiryo, hingga Soekarno. Organisasi Sarekat Islam pimpinan Tjokroaminoto juga secara politik mempelopori pergerakan nasional untuk menuju kemerdekaan.

• KI Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara merupakan Bapak Pendidikan Indonesia. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan bernama lengkap RM Soewardi Soerjaningrat. Ia merupakan Menteri Pendidikan pada era Soekarno-Hatta dan hari kelahirannya pun diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hajar mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) yang merupakan sekolah dasar zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Pada 1905, ia bersekolah di STOVIA, sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia.

Ia pernah berkarier sebagai seorang guru dan mendirikan Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa. Tujuannya adalah untuk memberikan hak pendidikan yang sama kepada rakyat pribumi. Sedangkan pada masa itu, pendidikan hanya bisa dirasakan kepada kaum bangsawan dan Belanda.

• Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman merupakan seorang perwira tinggi pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Ia lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga dan memiliki sebutan Kaji Cilik atau Mas Kiai. Sebutan itu ia dapat karena dirinya seseorang yang tenang dan solutif.

Ia memiliki berbagai peran di organisasi yang diikutinya, seperti menjadi pemimpin di Hizbul Wathan, Pemuda Muhammadiyah, hingga Majelis Pemuda Muhammadiyah di Banyumas.

Sebelum namanya terkenal sebagai pemimpin gerilya perang melawan agresi militer Belanda, Soedirman merupakan seorang guru atau tenaga pengajar. Karier Soedirman berawal ketika memutuskan belajar di Kweekscholl di Surakarta dan kemudian mengajar di SD Muhammadiyah. Selama menjadi guru, ia mendidik muridnya dengan pendakatan moral. Ia juga pernah menjadi kepala sekolah di HIS Muhammadiyah, Cilacap pada 1936.


*Melansir dari berbagai sumber,

Maria Alexandra Fedho/Litbang MPI

 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini