Share

Tokoh Pendidikan yang Pernah Kuliah Kedokteran, Ki Hajar Dewantara Tidak Lulus

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 30 Januari 2022 12:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 27 65 2538714 tokoh-pendidikan-yang-pernah-kuliah-kedokteran-ki-hajar-dewantara-tidak-lulus-9eLGpxpZoH.jpg Ki Hadjar Dewantara. (Foto: Kemendikbud)

JAKARTA - Pendidikan merupakan hal mendasar yang diperlukan untuk memajukan bangsa. Dari banyaknya tokoh yang berkecimpung di dunia pendidikan, beberapa di antaranya juga memiliki latar belakang dokter.

Berikut adalah beberapa tokoh pendidikan Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan dokter.

Wahidin Soedirohusodo

Pahlawan Nasional Indonesia yang menjadi penggagas berdirinya Budi Oetomo ini merupakan lulusan dari sekolah kedokteran STOVIA (School toot Opleiding voor Indische Artsen) Jakarta. Wahidin merupakan dokter yang dikenal senang bergaul dengan rakyat biasa dan seringkali memberikan pengobatan pada rakyat tanpa memungut biaya.

Ia beranggapan bahwa salah satu cara terbebas dari penjajahan adalah kecerdasan rakyat. Karenanya, ia sering mengunjungi tokoh masyarakat yang ada di Jawa untuk mendirikan dana pelajar, yang rencananya akan digunakan untuk menolong kaum muda dalam mendapatkan pendidikan.

Namun, ajakannya ini kurang mendapat sambutan dari tokoh masyarakat tersebut. Ia kemudian mengunjungi sesama pelajar STOVIA untuk mengungkapkan gagasan pendirian organisasi yang bertujuan untuk memajukan pendidikan.

Gagasan ini pun disambut baik oleh rekan-rekannya, yang kemudian terwujud dalam bentuk organisasi Budi Oetomo. Di kemudian hari, tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Dr Sutomo

Salah satu tokoh pendiri Budi Oetomo ini memiliki nama asli Subroto. Dilahirkan pada 30 Juli 1888, Sutomo juga merupakan lulusan STOVIA Jakarta. Ia turut serta mendirikan Budi Oetomo yang memiliki tujuan untuk memajukan nusa dan bangsa di tingkat pengajaran, pertanian, peternakan, dan lain sebagainya.

Ia lulus dari STOVIA pada tahun 1911 dan mengabdi menjadi dokter di Semarang sebelum berpindah ke Tuban, Lubuk Pakam, hingga Malang untuk membasmi wabah pes. Pada tahun 1924, ia mendirikan Indonesische Studie Club (ISC) yang menjadi wadah bagi pelajar Indonesia.

ISC kemudian berhasil mendirikan berbagai fasilitas seperti sekolah tenun, bank kredit, dan koperasi.

Ki Hajar Dewantara

Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yang bernama asli Suwardi Suryaningrat ini sempat mengenyam pendidikan di sekolah kedokteran STOVIA di Jakarta dari tahun 1905 hingga 1910. Namun, karena sempat jatuh sakit dan harus tinggal kelas, beasiswa yang diterimanya saat mengenyam pendidikan di sana pun dicabut.

Setelahnya, ia menjadi jurnalis dan bergabung dengan berbagai organisasi pergerakan nasional. Sebut saja Budi Oetomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. Disini, ia bertemu dengan rekan seperjuangannya yang kemudian dijuluki Tiga Serangkai.

Ketika diasingkan ke Belanda, ia masih rutin menulis untuk berbagai surat kabar Belanda. Berkat pengaruh Tiga Serangkai, himpunan mahasiswa di Belanda yang bernama Indische Verseeniging mengubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. setelah kembali ke Indonesia, ia dan kawan-kawannya mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli 1922.

*dilansir dari berbagai sumber,

Andin Danaryati/Litbang MPI

 

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini