Share

3 Tokoh Dirgantara Indonesia yang Melegenda, Ada yang Dijadikan Nama Bandara

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 18 Desember 2021 12:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 16 65 2517961 3-tokoh-dirgantara-indonesia-yang-melegenda-ada-yang-dijadikan-nama-bandara-dOa4tnAva7.jpg BJ Habibie, salah satu tokoh dirgantara yang melegenda. (Foto: Ant)

JAKARTA - Indonesia memiliki sederet tokoh mumpuni dalam berbagai bidang. Tak terkecuali di bidang dirgantara. Berikut adalah 3 tokoh dirgantara Indonesia yang melegenda.

Abdul Halim Perdanakusuma

Marsda TNI (Anm) Abdul Halim Perdanakusuma merupakan Bapak Penerbang AURI yang lahir di Sampang, Madura, 18 November 1922. Melansir laman Dinas Penerbangan TNI AU, Abdul berasal dari keluarga yang cukup terpandang.

Ayahnya, Haji Abdulgani Wongsotaruno merupakan seorang patih dan penulis. Salah satu bukunya yang terkenal adalah “Batara Rama Sasrabahu”.

Semasa mengenyam pendidikan, Abdul bersekolah di HIS Semarang, MULO Surabaya, dan Mosvia atau pendidikan Pamong Praja Hindia Belanda di Magelang. Ketika Belanda diduduki Jerman pada Mei 1940, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kewajiban militer atau milisi bagi masyarakat Hindia Belanda.

Abdul, yang sedang menjalankan pendidikan tingkat 2 di Mosvia, termasuk yang ikut wajib militer. Selama Perang Dunia II itu, Abdul pernah bertugas di Royal Canadian Air Foice dan Royal Air Force. Pangkatnya ketika itu adalah Wing Commander.

Ia kemudian diberi amanah untuk menjadi Perwira Operasi Udara dan bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi udara. Abdul mendapat mandat untuk menyusun serangan udara balasan saat Agresi Militer Belanda pertama.

Kala itu, AURI berhasil melakukan serangan terhadap 3 kota yang dikuasai Belanda, yakni Ambarawa, Salatiga, dan Semarang. Atas keberhasilan inilah nama AURI kian melambung dan terkenal.

Abdul Halim gugur pada 14 Desember 1947 dalam kecelakaan pesawat Avro Anson RI-003. Pesawat tersebut terjebak dalam cuaca buruk di Perak, Malaysia saat melakukan perjalanan kembali dari Bangkok ke Singapura. Namanya melegenda hingga kini dan dijadikan nama sebuah bandar udara di Jakarta Timur.

Bacharudin Jusuf Habibie

Presiden ketiga RI Bacharudin Jusuf Habibie memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap dunia kedirgantaraan. Ia dikenal sebagai sosok jenius yang menempuh pendidikan tingginya di Jerman dengan bidang teknik.

Mengutip buku “Pasang Surut Industri Pesawat Terbang di Indonesia”, Habibie memang memiliki mimpi besar untuk membangun industri pesawat terbang Tanah Air, yang bisa menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.

Habibie dipilih untuk mengelola proyek IPTN atau PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. IPTN diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 April 1976. Pencapaian terbesarnya dalam dunia penerbangan Indonesia dan masih dikenang sampai sekarang adalah keberadaan pesawat N-250 Gatot Kaca karya Habibie.

Pesawat itu pertama kali mengudara pada 10 Agustus 1995. Selain itu, Habibie juga dikenal sebagai Mr. Crack, karena menemukan teori Crack Propagation. Ia mampu menghitung crack propagation on random hingga mencapai atom sebuah pesawat terbang. Teori ini kemudian terkenal dan banyak digunakan oleh para ilmuwan di dunia.

Habibie wafat pada 2019 dalam usia 83 tahun. Selain terkenal karena kecerdasannya dalam dunia pesawat terbang, Habibie juga dikenal dengan kisah kehidupan pribadinya yang romantis dengan sang istri, Aiunun Habibie. Cerita keduanya bahkan dijadikan film bertajuk “Habibie & Ainun”.

Nurtanio Pringgoadisuryo

Marsekal Muda TNI (Anm) Nurtanio Pringgoadisuryo merupakan salah satu perintis industri penerbangan di Indonesia. Ia lahir pada 3 Desember 1923 di Kandangan, Kalimantan Selatan. Menurut informasi yang ada dalam artikel berjudul ‘Dinamika Industri Pesawat Terbang Indonesia tahun 1966 – 1998’, Nurtanio adalah penggagas pertama pendirian industri pesawat terbang.

Ia sedianya merupakan teknisi AURI. Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) kemudian didirikan pada 1961 dan diresmikan langsung oleh Nurtanio.

Nurtanio sudah mulai menunjukkan kegemarannya terhadap dunia dirgantara sejak masih belia dengan mengikuti perkumpulan Junior Aero Club. Ia gugur dalam kecelakaan pesawat yang dipilotinya di Bandung, pada 21 Maret 1966.

Kala itu, mesin pesawat buatan Cekoslavia yang ia kendalikan mengalami kerusakan mesin hingga menabrak sebuah toko saat akan mendarat darurat di lapangan Tegalega, Bandung.

*diolah dari berbagai sumber

Ajeng Wirachmi/Litbang MPI

 

 

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini