Pengabdian Guru Desa Terpencil, Bertaruh Nyawa Seberangi Laut Demi Mengajar Murid

Muhammad Hijrah Lubis, iNews · Kamis 25 November 2021 19:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 624 2507394 pengabdian-guru-desa-terpencil-bertaruh-nyawa-seberangi-laut-demi-mengajar-murid-ohLGmKLIzu.jpg Tripika Dewi bersama anak-anak didiknya.

MEDAN – Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional untuk menghargai jasa para guru, yang sering dijuluki sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Para guru, dengan bimbingan dan pengajarannya, adalah orang yang berperan di balik kemajuan bangsa.

Salah satu guru yang memberikan pengabdian yang luar biasa adalah Tripika Dewi, seorang tenaga pengajar di daerah terluar Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

BACA JUGA: Hari Guru Nasional, Ini Sosok Guru bagi Menhub

Setiap harinya ibu Dewi pergi menyeberangi laut untuk mengajar beberapa muridnya. Meski nyawa menjadi taruhan, ibu Dewi tetap mengabdi demi mencerdaskan anak bangsa.

Tidak hanya menyeberangi lautan, Ibu Dewi juga harus menempuh jarak sejauh 5 kilometer untuk sampai di sekolah yang terletak di lokasi terpencil itu. Sulitnya akses jalan ke sekolah mempertegas perjuangan dan rasa pengabdiannya.

BACA JUGA: 3 Tokoh yang Berperan dalam Peringatan Hari Guru, Dimulai Tahun 1943

Di tengah gencarnya gempuran teknologi di segala aspek kehidupan masyarakat saat ini, nyatanya sosok seorang guru yang handal dan berkomitmen kuat tetap sangat dibutuhkan.

Guru merupakan ujung tombak bagi bangsa untuk menciptakan generasi tangguh seperti yang diimpikan tokoh dan pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantara. Ironisnya, di era globalisasi saat ini masih ada guru seperti Tripika Dewi yang mengajar seorang diri di desa terpencil di Kabupaten Langkat.

Ibu Dewi seorang diri mengajar puluhan siswa sekolah dasar (SD) di Dusun Tanjung Keramat, Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat. Peran ini dijalaninya meski dirinya hanya pegawai honorer yang lulus dari sekolah menengah atas karena tidak ada aparatur sipil negara (ASN) yang mau mengajar di desa terpencil tersebut.

Selain akses yang sulit, tidak adanya jaringan internet dan telepon di sekolah ini menjadi kontradiski dia semangat merdeka belajar, yang digalakkan agar bangsa Indonesia terbebas dari belenggu kebodohan di tengah keterbatasan yang ada.

TripikaDewi mengatakan dirinya sudah mengajar di SD 056642 selama lebih dari 14 tahun dengan tujuan agar anak-anak di desa terpencil itu tetap bisa belajar di sekolah formal.

“Dari tahun 2006 hingga sekarang, sudah lebih dari 14 tahun. Saya mengajar sendiri, kelas 1, 2, dan 3. Kalau musim hujan kelas 1 sampai kelas 6 bergabung, kalau musim kemarau kita di sini,” kata Tripika Dewi.

Di tengah segala keterbatasan dan halangan, semangat belajar para siswa di kelas jauh SD 056642 ini tidak pernah padam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini