Share

Mahasiswi ITS Tingkatkan Kualitas Air Warga Manfaatkan Limbah Sabut Pinang

Neneng Zubaidah, MNC Portal · Selasa 02 November 2021 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 02 65 2495332 mahasiswi-its-tingkatkan-kualitas-air-warga-manfaatkan-limbah-sabut-pinang-Pzcg4tBVZW.jpg Proses pembuatan filter air dari limbah sabut pinang oleh tim posko XIX dan warga sekitar (Foto: Tangkapan layar)

JAKARTA - Mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membantu meningkatkan kualitas air di Desa Majelis Hidayah, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata Kebangsaan (KKN-K) 2021, air dijernihkan menggunakan filter dari limbah sabut pinang.

Ialah Nelva Citra Saini, salah satu anggota tim KKN-K posko XIX ini menjelaskan bahwa pembuatan filter air dengan media limbah sabut pinang sebagai bahan adsorben tersebut dilakukan karena kualitas air yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Desa Majelis Hidayah masih kurang baik.

“Sumber airnya dari sumur bor, tapi air tanah yang ada itu keruh, bersifat asam, dan mengandung besi,” katanya seperti dikutip dari laman resmi ITS di its.ac.id, Senin (1/11/2021).

Baca juga: Mahasiswa ITS Gagas Alat Sterilisasi Buah

Pemanfaatan limbah sabut pinang sendiri didukung dengan melimpahnya pohon pinang yang ada di Desa Majelis Hidayah. Kabupaten Tanjung Jabung Timur sendiri juga termasuk penghasil pinang terbesar di Indonesia.

“Akan tetapi selama ini yang dimanfaatkan hanya bijinya saja sehingga menimbulkan timbunan limbah sabut pinang tersebut,” tambahnya.

Baca juga:  Mahasiswa ITS Rebut Perunggu di Kompetisi Matematika Internasional

Kandungan selulosa yang tinggi dari kulit pinang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan karbon aktif. Hal itu diolah lebih lanjut untuk membuat filter air sederhana dari limbah sabut pinang yang diaktivasi dengan Asam Sulfat untuk membantu meningkatkan kualitas air di desa tersebut.

“Setelah melakukan percobaan, hasil uji laboratorium menunjukkan peningkatan kualitas air,” urai Nelva, sapaan akrabnya.

Berbagai tantangan pun harus dihadapi Nelva selama pelaksanaan program ini seperti proses adaptasi dengan lingkungan setempat maupun dengan tim. Perbedaan asal mahasiswa menyebabkan sempat terjadinya perbedaan pendapat.

Namun hal itu dapat diselesaikan dengan mengambil keputusan berdasarkan kesepakatan bersama. “Justru perbedaan tersebut kami manfaatkan untuk saling melengkapi,” ujar mahasiswi Departemen Teknik Kimia ITS ini.

Nelva berharap kegiatan KKN-K ini dapat terus diadakan untuk membantu pemerintah dalam membangun masyarakat di beberapa daerah pelosok di Indonesia.

Selain itu, ia juga berharap pemuda Desa Majelis Hidayah dapat lebih semangat lagi dalam membangun desanya. “Semoga di lain kesempatan, ITS bisa juga menjadi tuan rumah KKN Kebangsaan,” pungkasnya.neneng zubaidah

Caption: Proses pembuatan filter air dari limbah sabut pinang oleh tim posko XIX dan warga sekitar. Foto/tangkapan layar

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini