Mahasiswa ITS Rebut Perunggu di Kompetisi Matematika Internasional

Neneng Zubaidah, Koran SI · Rabu 11 Agustus 2021 10:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 11 65 2454014 mahasiswa-its-rebut-perunggu-di-kompetisi-matematika-internasional-FeUWPguHIb.jpg foto: istimewa

JAKARTA - Mahasiswa ITS Departemen Matematika, Alvian Alif Hidayatullah berhasil mendapatkan penghargaan perunggu pada ajang International Mathematics Competition (IMC) yang dituan rumahi oleh American University di Bulgaria secara daring.

Alvian menyebutkan, IMC ke-28 kali ini memiliki sistem penghargaan yang berbeda dari perlombaan biasanya. Pada lomba ini, setiap tingkat penghargaan diberikan kepada 20% dari jumlah peserta di luar penerima Grand First Prize yang berjumlah 10 orang.

“Sehingga di sini, saya dengan skor 14 bersama 120 peserta lainnya bisa mendapatkan Third Prize atau penghargaan perunggu,” katanya melalui siaran pers.

Baca juga: Mensos Risma Ajak Rektor ITS Kirim Motor Listrik GESITS ke Papua

Mahasiswa asal Sampang, Madura ini berangkat mengikuti IMC mewakili tim Indonesia bersama 10 mahasiswa lainnya yang dinaungi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Peserta yang berada dalam tim Indonesia merupakan para pemenang dari Kompetisi Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan (KN MIPA) 2020.

Baca juga:  Beri Kuliah Umum ke 6.424 Maba ITS, Ini Wejangan Mensos Risma

“Saya sendiri tahun lalu menerima penghargaan perak di KN MIPA,” ungkapnya.

Dari 11 orang tim perwakilan Indonesia tersebut, 9 diantaranya berhasil merebut penghargaan medali. Yakni 1 orang mendapatkan medali emas, 3 meraih medali perak, dan 5 orang (termasuk Alvian) berhasil menyabet medali perunggu. Sedang dua orang lainnya berhasil mendapatkan penghargaan honorable mention.

Pemuda kelahiran 2 Oktober 1999 ini menceritakan, pengerjaan soal dilakukan selama 2 hari dengan 4 soal dikerjakan selama 4 jam setiap harinya. Pengerjaan soal dilakukan dari rumah masing-masing peserta dengan pengawasan oleh leader tim lewat aplikasi Zoom.

“Pengerjaan ini direkam supaya misalnya nanti ada jawaban yang mirip, ada bukti bahwa kami tidak bekerja sama,” imbuhnya.

Alvian mengakui, tingkat kesulitan pada lomba Internasional sangat jauh berbeda dengan lomba nasional. Sistem penilaian yang lebih ketat membuat peserta harus memberikan jawaban yang lengkap dan jelas sesuai dengan apa yang diminta pada soal.

“Misalnya kita menjawab banyak tapi tidak mengarah pada soal, itu poinnya sedikit saja,” bebernya.

Pengerjaan yang harus dilakukan dalam Bahasa Inggris pun diakui menjadi salah satu hambatan bagi mahasiswa angkatan 2018 ini. Karena penggunaan bahasa asing dalam bidang matematika cukup berbeda dengan bahasa sehari-hari, Alvian merasa masih kurang fasih.

“Tapi untungnya dengan adanya pelatihan sebelumnya jadi bisa membiasakan mengerjakan soal dalam Bahasa Inggris tersebut,” tutur alumnus SMAN 1 Sampang ini.

Alvian mengungkapkan, sangat bersyukur dengan dukungan dari rekan-rekan tim Indonesia lainnya. Meskipun perlombaan dinilai secara individu, dukungan moral yang didapat dari momen pelatihan dianggap menambah tingkat percaya diri dalam mengikuti lomba Internasional tersebut sampai selesai. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini