Share

Ini Dampak Buruk Pernikahan Dini bagi Remaja

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 24 September 2021 18:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 624 2476487 ini-dampak-buruk-pernikahan-dini-bagi-remaja-cX2UTbWvwj.jpeg foto: ist

JAKARTA – Forum Anak Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mengungkapkan banyaknya perkawinan anak di Sintang. Hal inilah yang menjadi keresahan dan ingin berbuat sesuatu agar pernikahan anak tidak lagi terjadi dan anak-anak dapat meraih masa depan yang lebih baik.

(Baca juga: Perwira Cantik Ini Alami Gangguan Mental, Jenderal Andika Bikin Keputusan Mengejutkan)

Mengutip data dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sintang, tercatat pada tahun 2021 sebanyak 10% dari total pernikahan yang ada adalah pernikahan dengan dispensasi pengadilan karena dilakukan sebelum usia 19 tahun.

"Dari hasil wawancara kami, banyak yang menyesal, ingin sekolah tapi nggak bisa karena sudah punya anak. Setelah ada suami juga jadi terkekang, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, harus mengurus rumah dan anak," ujar Ketua Forum Anak Kecamatan Sepauk, Valentina, Jumat (24/9/2021).

(Baca juga: Tragis! Ibu Tumbalkan Anak Kandung ke Dukun untuk Disetubuhi Demi Pesugihan)

Fakta ini didapatnya saat melakukan kegiatan Child Led Research (CLR) yang didampingi oleh Wahana Visi Indonesia. Dalam kegiatan ini, anak-anak melakukan riset atas inisiatif mereka, mulai dari menentukan topik penelitian, melakukan pengambilan data hingga pengolahan data dan menyusun rekomendasi hasil penelitian.

"Kami saat ini sudah mewawancarai 40 orang responden. Sebelumnya kami meminta bantuan dari pihak kecamatan untuk mendapatkan informasi siapa saja yang bisamenjadi responden. Rata-rata yang kami wawancarai sudah dewasa, tapi mereka dulu menikah di usia anak di bawah 18 tahun. Tapi ada juga sebagian yang masih usia anak-anak, yang paling muda usianya 14 tahun,"ungkapnya.

Pada sebagian besar kasus yang mereka temui, anak perempuan menikah dengan orang dewasa. Banyak anak juga putus sekolah karena tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah, ada yang menikah karena alasan ekonomi dan ada juga kasus anak-anak perempuan yang hamil di luar nikah.

"Harusnya sih ada sosialisasi bagi orangtua dan anak. Ternyata nikah muda dampaknyaseperti ini. Karena sebagian besar dari mereka gak tau dampak pernikahan di usia anak. Lalu, mungkin perlu ada bantuan untuk pendidikan. Gimana anak-anak mau melanjutkan sekolah kalau kesulitan biaya? Di kampung-kampung, akses sekolah susah," urainya.

Namun, dia juga melihat ada desa yang sudah berhasil mencegah pernikahan dini anak dengan membuat peraturan bahwa tidak boleh ada pernikahan di bawah usia 18 tahun.

“Saya berharap ada aturan serupa di desa-desa yang lain, sehingga anak-anak perempuan bisa tetap melanjutkan sekolah dan meraih mimpi-mimpinya,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Wahana Visi Indonesia bersama kemitraan global World Vision mengadakan kampanye 1.000 Girls sejak September-Oktober 2021 dalam rangka memperingati Hari Anak Perempuan Internasional pada 12 Oktober.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini