Pada puncak peringatan HAI tingkat nasional, Direktur UNESCO Jakarta, Mohamed Djelid, memandang bahwa harkat dan martabat manusia sangat ditentukan oleh kemampuannya berliterasi.
“Perayaan HAI tahun 2021 menjadi momentum yang tepat untuk menata model pembelajaran dan literasi yang lebih baik,” ucapnya
Proses pemerintah dalam upaya penuntasan buta aksara telah dilalui dan diabadikan dalam berbagai penghargaan dari UNESCO, yakni King Sejong Literacy Prize tahun 2018, dan BASAbaliWiki tahun 2019 yang meraih penghargaan The Unesco Confucius Prize for Literacy.
Selain itu, sejak akhir tahun 2019, pemerintah Indonesia dipilih sebagai Komite Pengarah Aliansi Global Literasi atau Global Alliance for Literacy (GAL) UNESCO, atas keberhasilan Indonesia memberantas buta aksara.
GAL merupakan perkumpulan atau aliansi 29 negara, yang terdiri dari 20 negara dengan angka melek huruf di bawah 50 persen (antara lain Afganistan dan beberapa negara di Afrika) dan E-9 Countries atau 9 negara berpenduduk terpadat di dunia dan memiliki angka melek huruf di atas 70 persen (antara lain India dan Indonesia). Dan angka melek huruf Indonesia berdasarkan Susenas BPS 2020 usia 15-59 tahun adalah 98.29 persen.
(Widi Agustian)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik