Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Angka Buta Huruf Turun, Kini 2,9 Juta Warga Indonesia Belum Bisa Membaca

Kevi Laras , Jurnalis-Kamis, 09 September 2021 |09:27 WIB
Angka Buta Huruf Turun, Kini 2,9 Juta Warga Indonesia Belum Bisa Membaca
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Kebudayaan Ristek dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyampaikan jumlah warga yang buta huruf per 2020 mencapai 2.961.060 jiwa.

Jumlah itu turun dibanding data per 2019 yang mencapai 3.081.136 jiwa. Untuk itu, pemerintah terus berupaya mengentaskan masalah ini.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen), Jumeri mengatakan, pihaknya telah menjalankan program pengembangan literasi nasional untuk mengurangi angka buta huruf di Indonesia.

Baca juga: Kejagung Tangkap Buronan Korupsi Pengadaan SIM RSUD Aloe Saboe


Baca juga: Terkait Varian Mu Covid-19, Kemenkes Konsultasi ke WHO

Pengembangan literasi tersebut ditempuh melalui gerakan literasi sekolah, gerakan literasi masyarakat, dan gerakan lterasi keluarga melalui pendidikan formal dan nonformal.

“Melalui layanan program pendidikan keaksaraan diharapkan masyarakat buta aksara dapat meningkat kualitas hidupnya sebagai awal langkah untuk jenjang berikutnya. Masyarakat yang buta aksara (bisa) mengikuti pendidikan keaksaraan dasar, selanjutnya keaksaraan lanjutan, dan selanjutnya ke jenjang pendidikan kesetaraan Paket A setara SD, paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA,” ujar Jumeri dalam laman resmi Kemendikbud, Kamis (9/9/2021)

Sementara Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim menyampaikan, pengentasan buta aksara berujung pada literasi yang mendorong individu untuk berpikir kritis. Menurutnya, sangat penting menjadikan literasi sebagai kompetensi esensial dalam dunia pendidikan.

“Bukan hafalan yang harus dituntut dari peserta didik, melainkan kemampuan memahami, dan mengolah informasi secara kritis,” ujarnya

Pada puncak peringatan HAI tingkat nasional, Direktur UNESCO Jakarta, Mohamed Djelid, memandang bahwa harkat dan martabat manusia sangat ditentukan oleh kemampuannya berliterasi.

“Perayaan HAI tahun 2021 menjadi momentum yang tepat untuk menata model pembelajaran dan literasi yang lebih baik,” ucapnya

Proses pemerintah dalam upaya penuntasan buta aksara telah dilalui dan diabadikan dalam berbagai penghargaan dari UNESCO, yakni King Sejong Literacy Prize tahun 2018, dan BASAbaliWiki tahun 2019 yang meraih penghargaan The Unesco Confucius Prize for Literacy.

Selain itu, sejak akhir tahun 2019, pemerintah Indonesia dipilih sebagai Komite Pengarah Aliansi Global Literasi atau Global Alliance for Literacy (GAL) UNESCO, atas keberhasilan Indonesia memberantas buta aksara.

GAL merupakan perkumpulan atau aliansi 29 negara, yang terdiri dari 20 negara dengan angka melek huruf di bawah 50 persen (antara lain Afganistan dan beberapa negara di Afrika) dan E-9 Countries atau 9 negara berpenduduk terpadat di dunia dan memiliki angka melek huruf di atas 70 persen (antara lain India dan Indonesia). Dan angka melek huruf Indonesia berdasarkan Susenas BPS 2020 usia 15-59 tahun adalah 98.29 persen.

(Widi Agustian)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement