Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mendikbudristek: Para Siswa Kami Bekali dengan Jiwa Kebhinekaan

Carlos Roy Fajarta , Jurnalis-Senin, 30 Agustus 2021 |16:41 WIB
 Mendikbudristek: Para Siswa Kami Bekali dengan Jiwa Kebhinekaan
Mendikbudristek, Nadiem Makarim (foto: istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Mendikbud Ristek dan Dikti, Nadiem Makarim menyebutkan pihaknya terus membekali para pelajar dengan jiwa kebhinekaan dan toleransi menghargai perbedaan.

Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam simposium internasional Unusia 2021 dengan tema Kosmopolitan Nusantara: Jejaring Spiritual dan Intelektual di Jalur Rempah-rempah, Senin (30/8/2021).

Baca juga:  Mendikbudristek: PKN Harus Lahirkan Pemimpin Yang Mendorong Pembelajaran dan Inovasi

"Sejak abad pertengahan Masehi jalur rempah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk gaya hidup masyarakat Nusantara," ujar Nadiem.

Menurutnya, jalur rempah itulah yang memungkinkan interaksi lintas budaya terjadi dengan harmonis baik perdagangan maupun hubungan antar agama.

"Masyarakat muslim Indonesia memiliki kepatuhan akan ajaran agama, dan keterbukaan terhadap kebudayaan lain. Nusantara tumbuh menjadi masyarakat yang kuat bukan karena keseragaman tapi karena keberagaman," sambungnya.

Baca juga:  Kemendikbud-Ristek Didesak Terbitkan SKB Pengawasan Pembelajaran Tatap Muka

Sejak terhubung memasuki abad ke 21, globalisasi, interaksi lintas budaya menjadi tidak dapat dihindarkan. Masyarakat Indonesia yang plural sudah disatukan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

"Mengapa intoleransi masih saja terjadi. Intoleransi menjadi salah satu dari tiga dosa besar pendidikan. Karena intoleransi melanggar kemerdekaan orang lain. Oleh karena itu kami berupaya menanamkan nilai-nilai kebhinekaan di jiwa para pelajar Indonesia," jelasnya.

Menurutnya, pendidikan karakter seharusnya tidak hanya dilakukan di dalam kelas, namun dimana saja agar seorang anak baik dari satuan pendidikan terendah hingga tertinggi tetap memiliki jiwa persatuan.

"Sehingga penting untuk menguatkan kolaborasi, hasil kajian humaniora menjadi landasan kebijakan, untuk menumbuh masyarakat. Keberagaman adalah kekuatan Indonesia. Kita perlu membuahkan gagasan mendorong masyarakat Indonesia yang toleransi di era globalisasi dengan belajar dari masa lalu, untuk belajar berbudaya dan bermasyarakat," pungkasnya. (din)

(Rani Hardjanti)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement