Mahasiswa UGM Bikin Prototipe Kaki Peraga Edukasi Titik Saraf Refleksiologi

Neneng Zubaidah, Koran SI · Rabu 25 Agustus 2021 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 25 65 2461017 mahasiswa-ugm-bikin-prototipe-kaki-peraga-edukasi-titik-saraf-refleksiologi-WhadpOavQX.jpg Universitas Gajah Mada (foto: ist)

JAKARTA - Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tim mahasiswa UGM yang terdiri atas Krida Tri Wahyuli, Fazrul Falaq (Sekolah Vokasi), Muhammad Hasani dan Ababil Ababil (FMIPA) dengan dosen pendamping Dina Fitriana Rosyada berhasil menciptakan prototype kaki peraga edukasi titik saraf refleksiologi yang ramah untuk tunanetra.

Alat peraga edukasi titik saraf ini bernama Smart Massage Tools. Smart Massage Tools merupakan alat edukasi refleksiologi berbentuk kaki dengan tombol-tombol titik saraf yang tersebar pada telapak kaki dimana masing-masing tombol dapat mengeluarkan audio penjelasan medis terkait titik saraf yang ditekan pengguna.

Baca juga:  Atasi Limbah, Tim Mahasiswa UGM Ubah Sarung Tangan Lateks Jadi Bahan Bakar Diesel

Smart Massage Tools berfungsi untuk meningkatkan kompetensi penyandang tunanetra dalam belajar refleksiologi khususnya dalam menemukan titik-titik saraf yang tepat beserta informasi medis pada telapak kaki.

“Pijat refleksi merupakan salah satu pekerjaan yang biasanya ditekuni penyandang tunanetra. Keterbatasan visual yang mereka alami tentu menjadi hambatan dalam menemukan titik-titik saraf pijat refleksi yang tepat agar pemijatan yang diberikan memiliki efek kesembuhan yang tinggi”, ujar Krida Tri Wahyuli dilansir dari laman resmi UGM di ugm.ac.id, Rabu (25/8/2021).

Baca juga:  Mahasiswa UGM Ciptakan Aplikasi Pendeteksi Performa Ternak

Ia menjelaskan, Smart Massage Tools karya mahasiswa UGM ini mampu menjadi solusi terhadap permasalahan di atas karena prototype ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya memiliki bentuk dan tekstur menyerupai kaki manusia, terintegrasi dengan sistem mikrokontroler yang mampu mengeluarkan audio edukasi titik-titik saraf, bersifat portabel serta mudah digunakan.

“Prototype ini telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual yang meliputi Hak Paten, Desain Industri dan Hak Cipta,” katanya.

Sampai saat ini, kata dia, belum terdapat alat peraga yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ilmu pijat refleksi atau disebut dengan istilah refleksiologi. Kegiatan pelatihan biasanya dilakukan menggunakan kaki asli sehingga bergantian antar peserta sehingga proses edukasi tersebut hanya dapat dilaksanakan secara bersama-sama dan membutuhkan instruktur.

Di era pandemi Covid-19 saat ini kegiatan pelatihan di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) pijat refleksi otomatis tutup. Sementara cara paling optimal untuk pelatihan hanya dapat dilakukan dengan kegiatan pelatihan refleksiologi secara daring.

“Itupun saya kira penuh dengan keterbatasan baik dari metode daringnya maupun efektivitas pemahaman yang diterima penyandang tunanetra. Melihat kondisi tersebut, Smart Massage Tools tentu merupakan media edukasi yang tepat untuk digunakan sebagai solusi keterbatasan proses belajar akibat pandemi Covid-19 ini,” ucap Krida.

Prototype inipun telah diujicobakan di SLB-A Yayasan Kesejahteraan Tunanetra (Yaketunis) Yogyakarta pada 12 Agustus 2021. Dalam uji coba tersebut, tim melibatkan tiga narasumber yaitu Widodo (Ahli Pijat Refleksi DIY, Pengajar Keterampilan Pijat di SLBA Yaketunis Yogyakarta), Ratna Dyah Astuti, S. Pd (Pengajar Keterampilan Pijat di SLBA Yaketunis Yogyakarta) dan Dwi Nugroho (Mantan Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia DIY dan Pendiri Panti Pijat).

“Saya coba dan alat ini jelas sangat membantu untuk menghafalkan nama-nama titik saraf dalam refleksi,” ungkap Widodo.

Dwi Nugroho menambahkan, bagian dalam telapak kaki Smart Massage Tools terdiri atas tombol-tombol titik saraf yang disusun berdasarkan titik-titik saraf inti yang terdapat pada telapak kaki manusia. Dengan tombol-tombol semacam ini tentunya para penyandang tunanetra manapun bisa menggunakan alat ini dengan mudah.

“Alat peraga ini sangat informatif dan menghafalnya juga mudah karena sesuai dengan titik-titik yang ada di sini. Harapannya, dengan adanya prototype ini kompetensi penyandang tunanetra terkait pijat refleksi dapat optimal sehingga mampu meningkatkan produktivitas mereka,” papar Dwi Nugroho. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini