Mahasiswa Ini Ciptakan Obat Gusi Bengkak dari Daun Belimbing Wuluh

Neneng Zubaidah, Koran SI · Kamis 19 Agustus 2021 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 19 65 2458012 mahasiswa-ini-ciptakan-obat-gusi-bengkak-dari-daun-belimbing-wuluh-kIz7HfpMK1.png foto: istimewa

JAKARTA - Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan Topikal Nano Gel Ekstrak yang diolah dari daun belimbing wuluh, dan cangkang udang yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka di gusi.

Gusi bengkak hingga mengeluarkan nanah (abses) merupakan salah satu kasus yang memerlukan penanganan dari dokter gigi. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, kondisi tersebut dialami 14% penduduk Indonesia.

Baca juga:  3 Mahasiswa UB Olah Limbah Plastik Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Tindakan yang umumnya dilakukan untuk meredakan abses pada gusi (gingiva) ialah dengan membuat sayatan menggunakan pisau bedah atau dikenal sebagai tindakan insisi.

Akan tetapi, tindakan tersebut dapat menimbulkan luka yang beresiko mengalami infeksi. Terutama, karena luka insisi tersebut berada pada rongga mulut yang kaya akan bakteri dan mikroorganisme.

Baca juga:  Ciptakan Piranti Penghitung Nener, Mahasiswa Ini Raih Medali Emas di Ajang IICYMS

Rasio terjadinya komplikasi infeksi pada tindakan insisi mencapai sebesar 14%-17%. Komplikasi yang ditimbulkan, antara lain pembengkakan, rasa nyeri, hingga infeksi sistemik.

Untuk mencegah komplikasi tersebut serta mempercepat penyembuhan luka, diperlukan suatu pengobatan tertentu.

“Oleh karena itu, tim kami dengan saya Ony Wulandari (FKG) sebagai ketua, serta Tasya Safina Utomoputri (FKG), dan Sekar Citra Priana (FKG) dibawah bimbingan drg. Nenny Prasetyaningrum, M.Ked berinovasi untuk menciptakan Topikal Nano Gel Ekstrak Daun Belimbing Wuluh dan Cangkang Udang yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka insisi gingiva,” ujar Ony dilansir dari laman resmi UB di ub.ac.id, Kamis (19/8/2021).

Daun belimbing wuluh mengandung berbagai macam senyawa aktif seperti flavonoid, fenol, saponin, triterpenoid, alkaloid, tanin, dan kumarin. Selain penggunaannya yang masih minim, daun belimbing wuluh memiliki aktivitas antibakteri yang lebih tinggi dibandingkan batang maupun buahnya.

Kemampuan antibakteri dari senyawa aktif dalam daun belimbing wuluh sangat penting untuk mengeliminasi bakteri atau mikroorganisme yang ada di area luka, sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi.

Selain daun belimbing wuluh, kitosan cangkang udang memiliki biokompatibilitas yang baik dalam proses penyembuhan luka karena mampu merangsang proliferasi sel, meningkatkan kolagenisasi, dan mempercepat regenerasi sel.

Penggunaan cangkang udang sekaligus dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembusukan limbah cangkang udang dari pabrik-pabrik pengolahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Kombinasi kedua bahan tersebut, selanjutnya dipadukan dengan teknologi nano. Teknologi ini mampu memperkecil zat menjadi sangat kecil.

Zat yang berukuran nano dapat lebih mudah masuk dan beradaptasi dengan sel yang rusak. Sehingga, nanogel yang dihasilkan mampu bekerja dengan lebih efektif dalam menyembuhkan luka pada gusi.

“Harapan tim saya dalam penelitian ini, yaitu dapat menciptakan suatu pengobatan alternatif baru dalam penyembuhan luka insisi gingiva dengan efek samping yang minimal, sekaligus sebagai upaya mengurangi limbah cangkang udang serta pemanfaatan daun belimbing wuluh secara maksimal,” pungkas Ony. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini