Dia melanjutkan, beberapa pelaku UMKM yang pada umumnya tergolong awam dalam bidang pemasaran, malah mereka harus merelakan uang terbakar begitu saja karena performa endorsement yang buruk.
“Maka akan timbul pertanyaan dari para pelaku UMKM tersebut, yakni bagaimana cara mendapatkan influencer yang tepat dengan harga yang friendly, tanpa hasil yang zonk,” ucap mahasiswa ITS ini.
Asad melanjutkan, aplikasi yang dirancang bersama timnya ini dapat menjadi solusi yang memudahkan para pelaku usaha di Indonesia untuk memasarkan produknya dengan jasa influencer melalui tiga pengalaman berbeda.
Baca Juga: Mahasiswa UNY Olah Daun Salam Jadi Krim Obat Luka Bakar
Tiga pengalaman berbeda tersebut ialah rekomendasi influencer yang sesuai dengan preferensi bisnis melalui bantuan Artificial Intelligence (AI), fitur pembayaran yang akan menyesuaikan nominal dengan performa sang influencer, dan juga laporan data analitik terhadap performa influencer yang terus diperbarui berdasar waktu yang sebenarnya.
Digiflux, katanya, dirancang menggunakan metode Design Thinking yang merupakan kerangka berpikir untuk memecahkan masalah dengan menggunakan pendekatan kepada pengguna.