Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pembunuh Bakteri yang Kebal Antibiotik Berhasil Ditemukan

Hairunnisa , Jurnalis-Minggu, 26 Januari 2020 |11:33 WIB
Pembunuh Bakteri yang Kebal Antibiotik Berhasil Ditemukan
Bakteri (Foto: Medicalnewstoday)
A
A
A

JAKARTA - Pada tahun 1928, Alexander Fleming menemukan antibiotik untuk mengobati pasien yang terkena infeksi bakteri. Namun tahun 2014, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa tidak sedikit kematian warga diakibatkan oleh infeksi bakteri yang tidak dapat dikendalikan dengan baik. Penggunaan antibiotik juga dapat memicu terjadinya resistensi.

Baca Juga: Marak Bakteri Kebal Obat, WHO Tegaskan Produksi Antibiotik Baru

Menurut dosen IPB University yang merupakan Guru Besar Tetap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Sri Budiarti bahwa bakteri entheropathogenic E.coli (EPEC) sebanyak 55% feses anak penderita diare. Sebanyak 50% dari bakteri EPEC ini resisten terhadap antibiotik berspektrum luas. Selain EPEC, bakteri pathogen (Proteus mirabilis, penyebab Infeksi Saluran Kemih/ISK) juga resisten terhadap antibiotik.

“Banyaknya temuan bakteri yang resisten terhadap antibiotik membuat pakar-pakar kesehatan mencari solusi untuk mencegah terjadinya peningkatan resistensi antibiotik yang telah ada. Dalam riset yang kami lakukan, kami berhasil menemukan virus yang mampu membunuh bakteri patogen yang resisten antibiotik. Virus pembunuh bakteri itu disebut bakteriofag litik. Temuan ini telah mendapatkan paten pada tahun 2018 terkait inovasi proses produksi dan formula,” ujarnya seperti dilansir situs resmi IPB, Jakarta, Minggu (26/1/2020).

Ada beberapa bakteriofag litik yang berhasil ditemukan Seperti fag litik untuk bakteri penyebab diare, fag litik untuk penyebab ISK, fag litik untuk bakteri penyebab infeksi kulit, fag litik untuk anti luka bakar dan beberapa fag litik lainnya.

Baca Juga: Apa Perbedaan antara Bakteri dan Virus?

Contohnya fag litik FB4 dan FBD3, yang diisolasi dari limbah air dan limbah sampah rumah tangga, dapat melisis sel EPEC penyebab diare. Fag litik FU3 untuk urapatogenik E.coli (UPEC), penyebab ISK, berhasil diisolasi dari Sungai Cisadane, Jawa Barat. Fag litik Bacillus pumilus (memiliki efek toksik pada sel epitel manusia) telah berhasil diisolasi dari Sungai Ciapus di Bogor.

"Ada 15 kasus di dunia yang telah menggunakan bakteriofag sebagai terapi alternatif. Namun belum ada yang menggunakannya di Indonesia. Minimnya penggunaan teknologi ini karena mekanisme aksi kontrol bakteriofag adalah spesifik inang, oleh karena itu identifikasi bakteri patogen penyebab penyakit perlu dilakukan," katanya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement