Awalnya, Ciputra memang terkejut dan syok karena metode pembelajarannya sangat berbeda dengan yang Dia rasakan di Sulawesi. Bagaimana tidak, di ITB, mahasiswa lah yang mendebat dosen.
Walau begitu, Ciputra mulai beradaptasi dan juga ketagihan untuk mendebat dosen. Hal ini Dia ungkapkan melalui buku tersebut.
"Saya, misalnya, pernah mendebat seorang profesor dalam bidang matematika yang menurut saya tidak benar dalam menguraikan jawaban sebuah soal. Saya maju ke depan. Saya dengan berani membuat uraian jawaban soal hitungan di papan tulis. Seminggu kemudian dalam kuliah berikutnya Profesor itu mengatakan, saya benar. Tentu saya senang," kenang Ciputra.
Pada akhirnya, Ciputra merasa nyaman belajar di ITB meski hanya dalam kurun waktu yang singkat. Ciputra mengaku bahwa ITB adalah surga untuk belajar, kemudian suasana kampusnya yang asri dan damai, lalu juga dosen-dosen di sana sangat hebat, serta pergaulan di ITB juga hangat. (rzy)
(Rani Hardjanti)