JAKARTA - Wakil Rektor Universitas Freiburg, Prof. Dr. Juliane Besters-Dilger mengakui peran Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan regional terkemuka di Asia Tenggara. Potensi besar Indonesia tersebut juga terefleksi pada sejumlah kerja sama strategis yang terjalin antara Jerman dan Indonesia di berbagai lini.
Tak hanya antar pemerintah, kerja sama juga terjalin antara pelaku bisnis, universitas, NGO, dan masyarakat. Di Indonesia, jumlah masyarakat yang ingin belajar Bahasa Jerman terus meningkat. Saat ini jumlahnya tak kurang dari 50.000 orang.
Baca Juga: Daftar Lengkap 100 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia
Hal itu disampaikan Prof. Besters-Dilger saat membuka kuliah umum tentang Indonesia dengan pembicara Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, pada Senin, 27 Mei 2019.
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Oegroseno memaparkan berbagai isu tentang Indonesia. Mulai dari sejarah singkat Indonesia, posisi geografis, perkembangan geopolitik Indonesia saat ini, potensi ekonomi, isu mengenai pemeliharaan lingkungan khususnya tentang lahan gambut dan pengelolaan sampah laut, hingga ke isu terkini terkait Pemilu, demokrasi dan Islam Indonesia.
“Salah satu slide favorit saya saat memulai presentasi di berbagai kesempatan adalah gambar relief kapal perahu cadik yang ada di candi Borobudur," kata Dubes Oegroseno dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (28/5/2019).
Baca Juga: Jokowi: Kekuatan Militer Kita Nomor 1 di ASEAN, Jangan Ragukan TNI
Relief perahu Borobudur ini mengundang kagum seorang mantan angkatan laut Inggris, Philip Beale. Philip awalnya tidak percaya bahwa saat Borobudur dibangun, Indonesia telah memiliki kapal secanggih itu. Ia pun kemudian melakukan penelitian dan ekspedisi bersama tim dari Indonesia yang pada akhirnya menghasilkan pembuatan replika perahu borobudur. Replika tersebut kemudian diberi nama Kapal Samudra Raksa.
“Ini adalah bukti bahwa sejak lama laut merupakan kekuatan besar bagi Indonesia. Bangsa Indonesia meyakini bahwa laut bukanlah pemisah antara ribuan pulau Indonesia, melainkan sebagai pemersatu. Itu sebabnya Indonesia menyebut wilayahnya bukan sebagai mother land akan tetapi land and water sebagai sebuah kesatuan atau yang dikenal dengan istilah Tanah Air," kata Dubes Oegroseno.