
“Pemikiran ini perlu di-challenge kembali. Saat sudah menikah, apa lagi punya anak, kebutuhan finansial akan semakin besar,” ujar Ike. Ike mengatakan, ketika menikah, masyarakat kita terbiasa untuk mengeluarkan banyak uang untuk resepsi. Ike mengatakan, ketika kemudian selepas menikah akan memiliki anak, lalu masih harus mempersiapkan untuk biaya persalinan. Lalu masa depan anak-anak dan kebutuhan sehari-hari. Jika ditambah dengan biaya cicilan rumah, beban finansial itu akan semakin besar. “Yang banyak terjadi, kebutuhan membeli rumah akhirnya dikorbankan dan sebuah keluarga mengandalkan tinggal di rumah orang tua,” kata Ike.
Justru pada masa muda, saat masih lajang atau belum punya anak, beban penghasilan belum terlalu besar. Ada baiknya mulai mencicil membeli rumah. Untuk yang memiliki jenis pekerjaan formal, cicilan tetap dengan jangka panjang dapat dipilih. Untuk yang bekerja sektor informal atau musiman, bisa dengan mengumpulkan uang hasil proyek pekerjaan secara cermat. Dengan demikian, DP bisa besar sehingga bisa atur masa cicilan tidak terlalu lama. Beban finansial saat menikah nanti bisa lebih ringan sehingga bisa membina rumah tangga dengan lebih mandiri di rumah sendiri.
Baca Juga: 22 Kampus Indonesia Masuk Daftar Universitas Paling Top di Asia