Share

Publikasi Ilmiah Indonesia Peringkat 2 di ASEAN

Feby Novalius, Okezone · Rabu 24 Oktober 2018 18:32 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 24 65 1968471 publikasi-ilmiah-indonesia-peringkat-2-di-asean-1ZuZdXgsrz.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Publikasi ilmiah internasional sepanjang empat tahun belakangan meningkat pesat pada skala ASEAN. Padahal pada 2013 hanya ada 5.299 publikasi dan Indonesia pada peringkat 4 di bawah Thailand.

Hal itu dikatakan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dalam keterangan tertulisnya mengenai Empat tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kepada Okezone, di Jakarta, Rabu (24/10/2018).

"Namun, per tanggal 10 Oktober Tahun 2018, publikasi ilmiah internasional Indonesia telah berhasil menghasilkan 20.610 publikasi dan berada di peringkat 2 ASEAN, di bawah Malaysia dengan 22.070 publikasi,” ujar Menteri Nasir.

Baca Juga: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Indonesia Kalah Saing, Ini Solusinya

Menteri Nasir menambahkan bahwa inovasi tidak akan lahir tanpa adanya riset dan pengembangan. Berkat berbagai kebijakan yang dikeluarkan Kemenristekdikti, maka terjadilah lompatan luar biasa dalam jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia.

Menteri Nasir memberikan catatan khusus capaian di bidang penguatan inovasi, yaitu pengembangan sepeda motor Gesit. Menteri Nasir menjelaskan bahwa sepeda motor listrik ini sudah siap diproduksi dan dikomersialisasikan.

Baca Juga: Banyak Mahasiswa Tak Terbiasa Menulis Ilmiah

“Sepeda motor listrik Gesit sudah siap diproduksi massal dan dipasarkan. Rencananya akan kami luncurkan pada bulan Desember 2018. Ini merupakan pioneer merek motor listrik Nasional pertama di Indonesia. Komponen lokal dari sepeda motor listrik Gesit sudah mencapai 88%,” pungkas Menteri Nasir.

Sekadar diketahui, Kemenristekdikti melakukan transformasi perekonomian negara dari ekonomi berbasis pada sumber daya alam (resource based economy) menjadi ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based economy).

Riset dan inovasi merupakan kunci utama dari transformasi tersebut. Oleh karena itu, Kemenristekdikti selama empat tahun ini telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan budaya riset dan inovasi di perguruan tinggi, lembaga penelitian dan masyarakat.

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini