3. Dr. Eng. Hamzah Latief, Pakar Tsunami dari Kelompok Keahlian Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB

Gempa yang terjadi di Palu merupakan pergerakan dari sesar Palu Koro. Mekanisme gempa yang terjadi di sana, tambahnya, dibangkitkan seperti strike-slip namun ada trusting di ujung bagian utara sesar. Trusting ini akan menyebabkan deformasi di bawah laut sehingga terjadi pergerakan tsunami yang mendekati perairan pesisir Donggala.
Namun demikian, pada saat terjadi gempa itu mengakibatkan adanya goncangan dimana sedimen-sedimen yang labil berada di muara sungai akan tergelincir turun ke bawah dan menimbulkan tsunami lokal.
Hal ini dapat terlihat dari rekaman video yang beredar. Sebuah video yang viral menunjukkan air yang bergejolak dan keruh diambil di atas sebuah kapal. Berdasarkan hipotesanya, fenomena itu menandakan adanya longsoran sedimen di bawah laut. Dan kedua, video dari atas bangunan yang terlihat pemandangan air laut sempat surut dan lebih putih, kemudian terjadi gelombang tinggi tsunami. Hal itu menunjukkan air dari lepas pantai.
4. Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, Ahli Geologi dari Kelompok Keahlian Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB

Fenomena likuifaksi secara sederhana dapat diartikan sebagai perubahan material yang padat (solid), dalam hal ini berupa endapan sedimen atau tanah sedimen, yang akibat kejadian gempa, material tersebut seakan berubah karakternya seperti cairan (liquid).
Sebenarnya, likuifaksi hanya bisa terjadi pada tanah yang jenuh air (saturated). Air tersebut terdapat di antara pori-pori tanah dan membentuk apa yang seringkali dikenal sebagai tekanan air pori. Dalam hal ini, tanah yang berpotensi likuifaksi umumnya tersusun atas material yang didominasi oleh ukuran pasir.
Karena adanya gempa bumi yang umumnya menghasilkan gaya guncangan yang sangat kuat dan tiba-tiba, tekanan air pori tersebut naik seketika, hingga terkadang melebihi kekuatan gesek tanah tersebut. Proses itulah yang menyebabkan likuifaksi terbentuk dan material pasir penyusun tanah menjadi seakan melayang di antara air.
Lebih lanjut ia menjelaskan, jika posisi tanah ini berada di suatu kemiringan, tanah dapat 'bergerak' menuju bagian bawah lereng secara gravitasional, seakan dapat 'berjalan' dengan sendirinya. Sehingga benda yang berada di atasnya, seperti rumah, tiang listrik, pohon, dan lain sebagainya ikut terbawa.
Secara lebih spesifik, kejadian ini disebut sebagai aliran akibat likuifaksi (flow liquefaction). Efek dari likuifaksi juga kadang-kadang berbeda kalau kekuatan gesek tanahnya belum terlampaui, tekanan air pori yang naik cukup kuat, hanya mengakibatkan retakan-retakan di tanah tersebut. Dan dari retakan-retakan itu akan muncul air yang membawa material pasir.
Contoh kejadian ini, banyak dijumpai di gempa Lombok. Seringkali ada lubang air di permukaan yang membawa pasir, atau suatu sumur tiba-tiba terisi pasir. Itu semuanya sebenarnya juga akibat likuifaksi, yang dikenal sebagai produk cyclic mobility.
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik