Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebab Akibat Tsunami & Likuifaksi Palu yang Mengerikan di Mata 4 Pakar UI-ITB

Rani Hardjanti , Jurnalis-Rabu, 10 Oktober 2018 |14:59 WIB
Sebab Akibat Tsunami & Likuifaksi Palu yang Mengerikan di Mata 4 Pakar UI-ITB
Likuifaksi Palu. (Dikutip dari laman ITB)
A
A
A

JAKARTA - Penyebab fenomena alam gempa yang kemudian disusul tsunami dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, menimbulkan banyak persepsi. Hingga kini pun masih menjadi perhatian para pakar dari berbagai universitas.

Sebab dan akibat bencana alam terus mengungkap sejumlah fakta mengejutkan, antara lain sebenarnya sejumlah regulasi sudah tersedia guna melindungi penduduk dari bencana alam. Namun, karena alasan ekonomi semuanya menjadi terabaikan.

Berikut ini rangkuman para pakar dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung, seperti dirangkum Okezone, dari laman kedua lembaga pada Rabu (10/10/2018).

(Foto: AP)

1. Prof. Dr. Budi Susilo Supanji, Pakar Geoteknik dan Manajemen Konstruksi UI

Fenomena likuifaksi pada wilayah Palu dan Donggala terjadi karena kondisi lapisan dasar tanah yang berupa material pasir atau lanau. Sebenarnya kondisi tersebut dapat dikatakan aman jika berada pada lokasi yang bukan merupakan ring of fire seperti pulau Kalimantan.

Dengan menggunakan rekayasa penggantian gradasi tanah sejauh 15-20 meter, permasalahan likuifaksi dapat segera terpecahkan.

Namun, optimisme ini seketika luntur karena proses ini memerlukan biaya yang besar, dan alat yang canggih untuk melakukan rekayasa tersebut.Akhirnya, saran perbaikan sendiri untuk kota Palu masih terus diperdebatkan. Beberapa praktisi menganggap bahwa kondisi tanah dapat direkayasa, tetapi beberapa akademis melihat bahwa sebaiknya kota Palu dipindahkan untuk mengurangi resiko yang berulang.

2. Prof. Dr. Widjojo Adi Prakoso, Kepala Lab Geoteknik UI


Sebenarnya zonasi sudah sejak lama diidentifikasikan bahwa wilayah tersebut memang merupakan pertemuan tiga lempeng tektonikya itu lempeng Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia sehingga rawan terjadinya gempa bumi.

Gempa bumi dan tsunami turut menyebabkan likuifaksi semakin cepat terjadi. Namun, fakta tersebut rupanya tak tersosialisasi baik kepada masyarakat yang tetap mendirikan bangunan di daerah tersebut.

Hal ini menjadi persoalan yang pelik, di mana masyarakat saat ini pun dalam membangun bangunannya tidak pernah awas terhadap kondisi tanah saat sebelum mendirikan bangunannya. Lalu, seringnya penggunaan jasa tukang yang tidak didasarkan dengan ilmu tentang tanah dan bangunan.

Alasan utama karena biayanya yang ditawarkan jauh lebih murah. Memang ini merupakan isu sederhana, namun berdampak besar. Saat ini sudah ada aturan khusus seperti perundang-undangan mengenai tanah serta mendirikan bangunan yang berusaha mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. Bahkan, ada peraturan pemerintah lainnya yang menjelaskan bahaya likuifaksi.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement