Saat menempuh pendidikan di Kota Gudeg itu pula, bakat melukisnya tersalurkan dengan bergaul dengan Nasjah Djamin, Affandi, dan Tino Sidin. Bahkan, ia diangkat menjadi Ketua Seniman Indonesia Cabang Yogya, yang berpusat di Solo dan diketuai S Sudjojono.
Tak hanya melukis, Daoed juga gemar menulis bahkan hingga akhir hayatnya menjadi kolumnis di sejumlah surat kabar di Tanah Air. Semasa senjanya, ia aktif menulis buku. Buku kenangannya terhadap sosok yang paling berjasa bagi dirinya adalah ibunya yang tertuang dalam buku berjudul "Emak" (2003) yang ditulisnya pada usia 77 tahun.
Melalui buku setebal 408 halaman itu pula, ia mengenang sosok Emak yang berperan besar dalam membentuk dirinya seperti saat ini. Dalam buku itu, Daoed bercerita mengenai sosok ayahnya yang seorang mantan pendekar dan ibunya yang seorang ibu rumah tangga yang pintar memasak.
Melalui buku yang terbagi dalam 19 judul itu, Daoed bercerita mengenai Emaknya yang hobi membaca dan sangat memengaruhi Daoed kecil. Emaknya rela memberikan tambahan uang saku untuk meminjam buku di perpustakaan swasta. Hal itu dikarenakan buku di Balai Pustaka kurang lengkap pada saat itu.
"Membaca itu kebutuhan buat saya, dan bukan hobi," kata Daoed semasa hidupnya.