Kedua, ing madyo mangun karso, yaitu ketika di tengah atau di antara para publik, guru dan pemimpin harus mampu membangun semangat untuk bekerja keras dan membangun kinerja yang baik.
Ketiga, tut wuri handayani, ketika berada di belakang guru dan pemimpin harus mampu memberi dorongan dan menggugah semangat sehingga orang-orang di sekitarnya dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Ajaran itu masih sangat relewan dengan kehidupan sekarang maupun masa yang akan datang. Artinya seorang guru ataupun pemimpin harus menjadi saritauladan, bukan hanya untuk muridnya, namun juga bagi bangsa ini untuk menuju masa depan yang lebih baik," katanya.
Ajaran Ki Hadjar lainnya adalah tri pusat pendidikan, meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Puan mengajak agar bagaimana mensinergikan ketiga pendidikan itu menjadi pesan, bahwa menghasilkan generasi yang baik, harus peduli dan tanggungjawab bersama secara gotong royong.
"Kalau kita bicara Pancasila, kelima sila kalau kita peras menjadi satu, intisarinya adalah gotong royong. Taman Siswa sejak pertama didirikan, sudah melaksanakan dan mengedepankan asas gotong royong di Indonesia," katanya.
Menurut Puan, hari-hari terakhir ini mungkin apa yang menjadi asas gotong royong itu sudah mulai sedikit terkikis, karena ada ego pribadi, ego sekelompok, atau ego dari orang-orang yang kemudian membuat bangsa saling bermusuhan satu sama lain. Mereka menginginkan agar masyarakat saling menghujat agar tercerai berai.