Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Unas Ajak Peduli Satwa di HUT Ke-71 RI

Iradhatie Wurinanda , Jurnalis-Rabu, 17 Agustus 2016 |18:11 WIB
Unas Ajak Peduli Satwa di HUT Ke-71 RI
Jatna Supriatna saat memberikan materi dalam simposium. (Foto: Dok. Unas)
A
A
A

JAKARTA - Merayakan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dapat dilakukan dengan berbagai cara. Uniknya, alih-alih menggelar upacara atau lomba-lomba, Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) justru menggelorakan semangat masyarakat untuk menyelamatkan, menjaga, dan melestarikan populasi satwa jenis mamalia besar, seperti harimau, badak, gajah, dan orangutan.

Kepedulian melindungi satwa tersebut dilakukan dengan menggelar simposium bertajuk 'Memaknai Kemerdekaan dengan Memerdekakan Kuartet Mamalia Besar Indonesia'. Dekan Fakultas Biologi Unas, Drs Imran Said Lumban Tobing, MSi mengungkapkan, kemerdekaan bisa dihubungkan dengan alam.

"Kemerdekaan juga bisa dilekatkan dengan alam karena alam berdampak pada kemerdekaan spesies kita. Jangan sampai mereka terusir lagi dari tempat tinggal mereka," ujarnya sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Okezone, Rabu (17/8/2016).

Pada kesempatan tersebut, Presiden South East Asia Primatologist Association 2006, Jatna Supriatna menjelaskan, Indonesia menjadi negara yang paling banyak memiliki spesies mamalia. Sayangnya, satwa-satwa tersebut banyak yang terancam punah.

"Mamalia ini adalah aset kita. Kalau sampai harimau Sumatera punah juga, rasanya tidak etis. Untuk itu, peran pemuda sangatlah penting. Mereka punya kekuatan media sosial dan aktivitas yang sangat besar," paparnya.

Dia juga mengatakan, pemuda perlu dibekali dengan pengetahuan tentang pentingnya menjaga dan mengharmonisasikan alam dengan pembangunan. Pembicara lainnya, Sri Suci Utami Atmoko menuturkan, saat ini masih terjadi perburuan liar akibat masyarakat belum mengetahui potensi satwa.

Sementara menurut Chairul Saleh dari WWF, ditinjau dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), perburuan dan perdagangan liar adalah masalah moral. "Penjualan ilegal adalah masalah moral bangsa Indonesia. Membunuh satwa langka bahkan dalam MUI sudah dinyatakan haram," tandasnya. (ira)

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement