JAKARTA - Mendengar nama Bina Nusantara (Binus) University kurang lengkap jika tidak dikaitkan dengan teknologi dan informasi (TI). Ya, kampus ini memang dikenal unggul di bidang TI. Tak heran, setelah lulus para mahasiswa atau yang kerap dijuluki Binusian banyak bekerja sebagai tenaga TI perusahaan atau industri.
Sang Rektor, Profesor Dr Ir Harjanto Prabowo, MM sendiri tak keberatan jika Binus dijuluki kampus pencetak tenaga TI di Tanah Air. Menurut dia, TI sudah seperti DNA bagi setiap Binusian. Pasalnya, jurusan apa pun di sana pasti kuat dalam hal teknologi.
"Dulu kan Binus memang sekolah IT (TI). Sekarang, walaupun jurusan manajemen, IT juga kuat. Itu sudah menjadi ciri," ujarnya saat berbincang dengan Okezone di Binus University, Jakarta, belum lama ini.
Pria kelahiran Pekalongan, 17 Maret 1964 itu mengungkapkan, kemampuan teknologi, khususnya komputer saat ini sudah menjadi kebutuhan di segala bidang. Sehingga, dia ingin supaya lulusan Binus memenuhi kemampuan tersebut.
"Tenaga IT, seperti programming, teknisi, dan lain sebagainya masih banyak dibutuhkan. Rumah sakit juga kan butuh IT. Jadi yang terpenting lulusan Binus itu harus relevan dengan kebutuhan dunia kerja," tuturnya.
Bidang TI di Binus, lanjut dia, sangat beragam. Anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Indonesia itu memaparkan, TI harus disesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Kemampuan TI akan membantu seorang lulusan untuk bersaing ketika mencari pekerjaan.
"Ada IT audit, pengembangan game, mobile, hardware, dan sebagainya. Tapi sebetulnya tidak cukup juga hanya menonjol di IT, mereka juga harus paham yang lainnya. Sama seperti kalau orang pintar saja tak cukup, tetapi harus punya soft skill juga. Saat ini para pegawai yang sudah 40 tahun ke atas harus waspada dengan generasi muda yang melek IT dan relatif mau digaji lebih kecil," terangnya.
Binus University sendiri nyatanya juga sudah memberikan wawasan industri kepada para mahasiswa sejak dini. Harjanto menjelaskan, kampus mengembangkan program '3 plus 1'. Artinya, mahasiswa hanya kuliah selama tiga tahun, sedangkan satu tahun berikutnya terjun langsung ke lapangan. Industri atau perusahaan akan disesuaikan dengan bidang masing-masing mahasiswa.
"Ini merupakan bagian dari kompetensi dan berlaku untuk semua jurusan. Harapannya supaya setelah keluar dari kampus dia tidak canggung. Perusahaan juga lebih mengenal alumni Binus karena sudah satu tahun magang," ucapnya.
Sosok yang menyelesaikan studi S-3 nya di Universitas Padjajaran (Unpad) itu menilai, persaingan saat ini semakin ketat. Para mahasiswa yang kuliah di luar negeri bahkan memilih bekerja di Indonesia. Itu berarti lulusan kampus Indonesia harus siap, jangan sampai kemampuannya tak sebanding dengan lulusan luar negeri.
"Tetapi kami juga membekali mahasiswa dengan semangat entrepreneuship karena tak semua harus kerja dengan orang lain. Start up juga terus didorong," sebutnya.
Saat ini, imbuh dia, Binus tidak hanya unggul di TI, tetapi juga di bidang-bidang, seperti desain, bisnis, dan komunikasi. Sebagai rektor yang sudah menjabat selama dua periode, Harjanto menjaga suapaya para mahasiswa tak hanya baik secara akademis, namun juga memiliki moral yang baik.
"Seperti dalam membuat start up, kan ada dua macam. Pertama dibuat kemudian sahamnya dijual, tetapi ada juga yang dipertahankan dan dirintis sampai besar. Saya ingin lulusan Binus menjalankan terus sampai sukses. Kemudian saya juga berkomitmen bagi Binusian yang melakukan korupsi ijazahnya akan dicabut. Itu sudah berlaku tiga atau empat tahun ini dan diumumkan resmi di acara wisuda. Untunglah sampai sekarang tidak ada. Biar bagaimanapun pendidikan itu kan fungsinya membekali," tutupnya.(afr)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik