JAKARTA - Pendidikan tinggi memiliki andil besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kualitas suatu kampus akan menenentukan mutu para lulusan ketika sudah berada di dunia kerja. Oleh sebab itu, pengelolaan perguruan tinggi menjadi hal krusial, terutama jika ingin menjadi kampus berkelas dunia.
Melalui sebuah perbincangan hangat dengan Okezone, baru-baru ini, Rektor Bina Nusantara (Binus) University, Profesor Dr Ir Harjanto Prabowo, MM, mengatakan, mengemban posisi rektor berarti siap mengorbankan segalanya. Apalagi, saat ini Binus sudah memiliki nama besar di mata masyarakat, dan akan terus berkembang di kemudian hari.
"Ketika jadi rektor benar-benar harus mau mengorbankan segalanya, dari waktu sampai emosi. Binus ini sudah besar dan akan semakin besar, sedangkan perubahan begitu cepat," ujarnya.
Mantan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Binus itu mengungkapkan, dia termasuk orang yang beruntung karena berkesempatan bertemu sekaligus dibimbing langsung oleh pendiri Binus, Doktor Widia Soerjaningsih. Sehingga, tantangan terbesarnya dalam memimpin universitas justru menata agar seluruh civitas akademika memahami budaya Binus itu sendiri.
"Mereka yang di Binus ini harus tahu kampus ini akan dibawa ke mana. Tentu saja melalui pemikiran bersama, dan bukan dari satu orang saja. Tetapi dalam mengungkapkan pendapat juga tak bisa sembarangan, harus mempertimbangkan kampus, budayanya seperti apa," terangnya.
Harjanto menjelaskan, alasan lebih berat mengelola internal kampus lantaran seiring berkembangnya zaman, perubahan dari luar menjadi hal yang mutlak. Perubahan itu, menurut dia, semua universitas selain Binus akan turut merasakan dampaknya. Sedangkan siapa yang mampu bertahan atau tidak bergantung pada kampus itu sendiri.
"Dosen misalnya, banyak yang baru, Mereka sudah S-2 bahkan S-3. Otomatis ekspektasi semakin besar. Nah kalau terjadi ketidakselarasan ini akan mengganggu, dan ini saya jaga. Di dalam (internal kampus) itu suasananya harus enak supaya kita bisa menghadapi tantangan di luar," tutur ayah dua anak itu.
Pria yang lahir di kota batik Pekalongan itu mengungkapkan, menjaga kampus yang dipimpinnya bebas dari unsur politik. Hal tersebut, lanjut dia, membuat kampus menjadi netral sehingga tidak didominasi oleh blok tertentu.
"Binus University juga tidak pernah membedakan agama, budaya, dan lain sebagainya. Dengan internal yang kuat, seberat tantangan apa pun di luar, enjoy saja," sebutnya.
Menjadi Rektor Binus dalam dua periode, bagi Harjanto, tak jauh berbeda saat dia hanya menjadi dosen. Baginya, rektor merupakan tugas tambahan, sedangkan profesi utamanya adalah sebagai dosen.
"Saya masih mengajar S-1 sampai S-3. Sebetulnya dosen itu kan sama dengan rektor. Dosen memimpin dalam kelas kuliah, kalau rektor memimpin semua; ya dosen, mahasiswa, dan universitasnya. Tetapi memimpin di sini bukan berarti memerintah saja, tetapi juga mengajak," paparnya.
Lulusan terbaik program master Binus pada 1997 itu menuturkan, di dunia pendidikan, rektor bukanlah posisi tertinggi, melainkan titel profesor. Sehingga, dia mengimbau kepada para dosen untuk tidak meributkan posisi rektor. Pasalnya, dalam suatu kampus hanya ada satu rektor, sedangkan gelar profesor akan dihargai oleh semua pihak, termasuk rektor.
"Karier dosen itu tidak struktural, tetapi profesorlah karier tertinggi. Jadi profesor itu dihargai karena keilmuannya, bahkan dihormati oleh rektor. Di sini semua berpeluang jadi profesor," ucapnya.
Kendati demikian, atas posisi rektor yang sedang diembannya, Harjanto merasa bangga. Lulusan S-1 Teknik Elektro Univeristas Dipenogoro (Undip) itu menambahkan, banyak pengalaman berharga yang sudah didapatkannya selama menjadi rektor.
"Saya ini orang kampung, jadi menjadi rektor jujur saya bangga. Saya senang bisa bertemu banyak orang walaupun harus kerja keras dan mengorbankan banyak waktu," pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik