JAKARTA - Imlek menjadi hari besar yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat Tionghoa. Bagaimana tidak, kesempatan tahun baru tersebut memberi banyak sukacita, termasuk tradisi bagi-bagi angpao oleh pihak yang sudah berkeluarga.
Seorang mahasiswa Universitas Tarumanagara (Untar), Jeanet mengungkapkan, sebenarnya tidak terlalu memahami berbagai filosofi dan tradisi Tionghoa. Namun, untuk Imlek, cewek berambut panjang ini menyambutnya dengan antusias.
"Imlek itu saat kita ngumpul bareng sama keluarga besar, makan-makan, dan bagi-bagi angpao," ujarnya kepada Okezone, belum lama ini.
Momen Imlek, kata dia, lebih dimanfaatkan sepenuhnya untuk keluarga. Sehingga, dia sama sekali tidak merayakan secara khusus bersama teman-temannya.
"Kalau natal masih suka makan-makan sama teman, tapi kalau Imlek enggak ada, khusus sama keluarga saja. Kalau tradisi lainnya aku kurang paham, jadi biasanya tinggal mengikuti orangtua," terangnya mahasiswa jurusan komunikasi itu.
Sementara mahasiswa lainnya, Teddy menuturkan, berharap tahun ini bisa memperoleh angpao dengan jumlah yang lebih besar daripada tahun sebelumnya.
"Biasanya kalau makin besar makin banyak angpaonya. Tapi nanti ada kalanya jumlahnya turun. Semoga tahun ini lebih besar dari sebelumnya," sebutnya.
Untuk tradisi Imlek di keluarga, mahasiswa semester VII Komunikasi Untar tersebut menjelaskan tidak jauh berbeda dengan yang lain, yakni makan hidangan Imlek bersama keluarga besarnya.
"Di sekitar tempat tinggal saya sebenarnya sudah tidak terlalu banyak menunjukkan budaya Tionghoa. Tapi bukan berarti luntur, hanya tergerus modernisasi. Untuk filosofi makanan saja saya tidak terlalu tahu banyak," tukasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik